Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rangkuman Materi PAI Kelas 10 Bab 5 Kurikulum Merdeka

Assalamualaikum Wr Wb,

Halo sahabat pendidikan dimanapun anda berada, salam sejahtera bagi kita semua.

Pada Kesempatan kali ini saya sebagai admin akan memberikan informasi tentang rangkuman materi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam jenjang SMA kelas 10 Bab 5


 

Bab 6 - Meneladani Peran Ulama Penyebar Ajaran Islam di Indonesia 

A. Masuknya Agama Islam di Indonesia

    Kapan Islam masuk ke Nusantara Indonesia?. Siapakah yang membawa Islam ke Nusantara Indonesia? Daerah mana di antara pulau-pulau di Nusantara yang merupakan daerah pertama masuknya Islam? Pertanyan-pertanyaan tersebut selalu memunculkan beragam pendapat dan jawaban dari para sejarawan.
        Wilayah Nusantara sangat luas, posisi geografisnya terletak di persimpangan jalur perdagangan antara India, Cina dan Arabia. Maka sulit untuk memastikan wilayah mana yang pertama kali menerima ajaran Islam. Oleh karena itu, ada beberapa teori tentang masuknya agama Islam di Indonesia sebagaimana diungkapkan oleh Ahmad Mansyur Suryanegara dalam buku “Api Sejarah Jilid 1”. Teori-teori tersebut yaitu

a. Teori Gujarat oleh Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje
Menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia dari Gujarat. Snouck Hurgronje berkeyakinan bahwa tidak mungkin Islam masuk ke Indonesia langsung berasal dari Arabia tanpa melalui ajaran tasawuf yang berkembang di Gujarat, India. Wilayah Kerajaan Samudra Pasai merupakan daerah pertama penerima ajaran agama Islam, yakni pada abad ke-13 Masehi. Teori ini tidak menjelaskan secara rinci antara masuk dan berkembangnya Islam di wilayah ini. Tidak ada penjelasan mengenai mazhab apa yang berkembang di Samudra Pasai. Maka muncul pertanyaan besar, mungkinkah saat Islam datang langsung mampu mendirikan kerajaan yang memiliki kekuasaan politik besar?

b. Teori Makkah oleh Prof. Dr. Buya Hamka
Buya Hamka menggunakan berita yang diangkat dari Berita Cina Dinasti Tang sebagai acuan teori ini. Menurutnya, Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 Masehi. Berdasarkan Berita Cina Dinasti Tang, ditemukan pemukiman saudagar Arab di wilayah pantai barat Sumatera. Dari sini disimpulkan Islam dibawa masuk ke Indonesia oleh para saudagar yang berasal dari Arab. Jika kita perhatikan, kerajaan Samudra Pasai didirikan pada abad ke-13 M atau tahun 1275 M, artinya bukan awal masuknya Islam tetapi merupakan perkembangan agama Islam.

c. Teori Persia oleh Prof. Dr. Husein Djajadiningrat
Menurut teori ini, Islam masuk dari Persia dan bermazhab Syi’ah. Pendapat ini didasarkan pada sistem mengeja bacaan huruf Al-Qur`an, terutama di Jawa Barat yang menggunakan ejaan Persia.
Teori ini dipandang lemah, karena tidak semua pengguna sistem baca tersebut di Persia sebagai penganut Syi’ah. Pada saat itu, Baghdad sebagai ibu kota Kekhalifahan Bani Abbasiyah yang mayoritas khalifahnya merupakan penganut Ahlussunnah wal Jama’ah. Lebih dari itu, adanya fakta bahwa mayoritas muslim Jawa Barat bermazhab Syafi’i sekaligus berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan pengikut Syi’ah.

d. Teori Cina oleh Prof. Dr. Slamet Muljana
Menurut Slamet Muljana, Sultan Demak merupakan keturunan Cina, lebih dari itu menurutnya, Wali Songo juga merupakan keturunan Cina. Pendapat ini didasarkan pada Kronik Klenteng Sam Po Kong.
Misalnya, Sultan Demak Panembahan Fatah dalam Kronik Klenteng Sam Po Kong bernama Panembahan Jin Bun. Sultan Trenggana disebutkan dengan nama Tung Ka Lo. Sedangkan Wali Songo, Sunan Ampel dengan nama Bong Swi Hoo, Sunan Gunung Jati dengan nama Toh A Bo.
Perlu diketahui bahwa menurut kebudayaan Cina, penulisan sejarah yang terkait dengan penulisan nama tempat dan nama orang yang bukan dari negeri Cina, juga ditulis menurut bahasa Cina. Maka sangat mungkin seluruh nama- nama raja Majapahit juga dicinakan dalam Kronik Klenteng Sam Po Kong Semarang. Pertanyaannya, mengapa nama Sultan Demak dan para Wali Songo yang dicinakan dalam Kronik Klenteng Sam Po Kong dianggap sebagai orang Cina?. Tentu hal ini merupakan salah satu titik kelemahan teori ini.

e. Teori Maritim oleh N.A. Baloch
Walaupun di Makkah dan Madinah terjadi perang selama kurun waktu sepuluh tahun antara 1-11 H/622-623 M, namun tidak memutuskan jalur perdagangan laut yang sudah menjadi tradisi sejak lama. Jalur perdagangan tersebut adalah jalur antara Timur Tengah, India dan Cina. Hubungan perdagangan ini semakin lancar pada masa Khulafaur Rasyidin (11-41 H/632-661 M). Banyak juga para sahabat Nabi Saw. yang berdakwah keluar Madinah, bahkan di luar Jazirah Arab.
Menurut N.A. Baloch, hal itu terjadi karena umat Islam memiliki kemampuan dalam penguasaan perniagaan melalui jalur maritim. Melalui jalur ini, yakni pada abad ke-1 H atau abad ke-7 M, agama Islam dikenalkan di sepanjang jalur niaga di pantai-pantai tempat persinggahannya. Proses pengenalan ajaran Islam ini, berlangsung selama kurun waktu abad ke-1 sampai abad ke-5 H/7-12 M. Fase berikutnya adalah pengembangan agama Islam, terjadi mulai abad ke-6 H sampai ke pelosok Indonesia. Saudagar pribumi berperan penting dalam proses pengembangan agama Islam di pedalaman-pedalaman. Dimulai dari Aceh pada abad ke-9 M dan diikuti tumbuh dan berkembangnya kerajaan Islam di berbagai wilayah.



B. Sejarah kerajaan Samudra Pasai 

Berdirinya Kerajaan samudra Pasai

Selain Kerajaan Hindu-Buddha, ternyata Nusantara juga punya Kerajaan atau Kesultanan Islam, loh. Munculnya Kesultanan Islam di Indonesia disebabkan oleh para pedagang Islam dari Arab, India, dan Persia yang awalnya singgah untuk berdagang, lama-kelamaan menetap dan membangun kerajaan. Sebenarnya, ada banyak Kesultanan Islam di Indonesia. Salah satu yang terkenal adalah Kesultanan Samudra Pasai.

Kesultanan Samudra Pasai diperkirakan berdiri pada pertengahan abad ke-13 Masehi. Kerajaan Samudra Pasai didirikan oleh Malikussaleh atau Malik al-Saleh. Kerajaan ini terletak di Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Wilayah tersebut diapit oleh dua sungai besar, yaitu Sungai Peusangan dan Sungai Pasai.

Sumber sejarah dari Kerajaan Samudra Pasai antara lain Hikayat Raja-Raja Pasai, Kitab Sejarah Melayu, Tuhfat Al Nazha yang ditulis oleh Ibnu Batutah, hingga prasasti yang berbahasa Arab dan Melayu Kuno.


Raja-Raja Samudra Pasai

Kesultanan Samudra Pasai dipimpin oleh raja atau sultan yang juga memberikan pengaruhnya terhadap kerajaan dan masyarakat sekitar. Berikut ini telah dirangkum nama-nama raja yang pernah memimpin Kerajaan Samudra Pasai beserta masa kepemimpinannya. Yuk, lihat gambar di bawah.


1. Sultan Malik Al-Saleh (1267-1297)

Pada tahun 1267, Kerajaan Samudera Pasai dipimpin oleh Meurah Silu dengan gelar Sultan Malik Al-Saleh. Di masa pemerintahannya, Kerajaan Samudra Pasai berhasil menguasai Selat Malaka yang pada saat itu menjadi pusat perdagangan internasional dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utamanya. Selain lada, Kerajaan Samudera Pasai juga mengekspor sutra dan kapur barus.

Kerajaan Samudra Pasai menjadi pusat perdagangan karena letaknya yang strategis sehingga banyak disinggahi oleh berbagai orang dari mancanegara. Selain itu, komoditas yang dihasilkan, yaitu lada, sangat dibutuhkan oleh masyarakat dunia.

Meurah Silu atau Sultan Malik al-Saleh merupakan pendiri dan raja pertama Samudra Pasai (berdiri pada tahun 1267 M). Meurah Silu memeluk Islam berkat pertemuannya dengan Syekh Ismail dari Mekah. Setelah masuk Islam, Meurah Silu bergelar Sultan Malik al-Saleh, dan berkuasa selama 29 tahun. Kesultanan Samudra Pasai merupakan gabungan dari Kerajaan Peurlak dan Kerajaan Pase.

Sultan Malik al-Saleh merupakan tokoh penyebar Islam di Nusantara dan Asia Tenggara. Hal ini disebabkan oleh kuatnya pengaruh kekuasaan Samudra Pasai di bawah kepemimpinan Sultan Malik al-Saleh. Semasa berkuasa, sempat menerima kunjungan dari Marco Polo. Dan menurut catatan Marco Polo, Sultan Malik al-Saleh merupakan raja yang kaya dan kuat pengaruhnya. 

Beliau wafat pada tahun 1297 M, dan kepemimpinan Samudra Pasai digantikan oleh Sultan Muhammad Malik al-Zahir (1297-1326 M). Sultan Malik al-Saleh dimakamkan di desa Beuringin Kecamatan Samudra, kira-kira 17 km sebelah timur Lhokseumawe. Di nisan Sultan Malik al-Saleh tertulis aksara Arab, yang terjemahnya “ini adalah makam almarhum yang diampuni, yang kuat dalam beribadah, sang penakluk yang bergelar Sultan Malik al- Saleh”.


2. Sultan Muhammad Az-Zahir (1297-1326)

Setelah Sultan Malik Al-Saleh wafat pada tahun 1297, kepemimpinan Kerajaan Samudera Pasai dilanjutkan oleh anaknya, yaitu Sultan Muhammad Malik Az-Zahir. Sang raja baru ini untuk pertama kalinya memperkenalkan koin emas atau dirham sebagai mata uang.



Mata uang dirham secara resmi digunakan dalam perdagangan di Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1297. Mata uang ini berupa kepingan emas yang memiliki diameter 10 mm dan berat sekitar 0,6 gram. Sisi atas bertuliskan Muhammad Malik Al-Zahir dan sisi bawah bertuliskan Al-Sultan al-adil yang artinya sultan harus memberi keadilan terhadap masyarakat.


3. Sultan Mahmud Malik Az-Zahir (1326-1345)

Pada tahun 1326, takhta kerajaan diteruskan oleh Sultan Mahmud Malik Az-Zahir. Di masa pemerintahannya, Kerajaan Samudra Pasai terkenal sebagai kerajaan dagang yang maju. Di tempat ini, banyak dijumpai pedagang dari India dan Cina yang membeli rempah-rempah, terutama lada. Selain itu, di Kerajaan Samudra Pasai terdapat beberapa jenis barang dari Cina yang dapat dibeli pedagang tanpa harus berlayar ke Cina. 

Pada masa pemerintahannya, Kesultanan Samudra Pasai dikunjungi oleh seorang penjelajah dari Maroko, yaitu Ibnu Batutah. Menurut catatan Ibnu Batutah, Sultan Ahmad sangat memperhatikan perkembangan dan kemajuan agama Islam. Beliau berusaha keras untuk menyebarkan ajaran Islam ke berbagai wilayah di sekitar Samudra Pasai.

Masa Kejayaan Samudra Pasai

Berikut ini telah dirangkum beberapa aspek yang mendukung kemajuan Kerajaan Samudera Pasai. Mau tau apa aja? Yuk, simak gambar berikut.



Masa Kemunduran Samudera Pasai

Tidak selamanya kerajaan mengalami kejayaan, pasti ada masanya ia akan runtuh. Sama halnya dengan Kerajaan Samudra Pasai. Pada tahun 1521, di bawah pimpinan Sultan Zain Al-Abidin, Portugis menyerang kerajaan ini karena iri dengan kemajuan dagang mereka yang begitu pesat. Angkatan perang Portugis yang lebih kuat akhirnya berhasil menaklukkan Kerajaan Samudra Pasai.

Keadaan kerajaan yang melemah ini kemudian dimanfaatkan oleh Sultan Ali Mughayat Syah, raja Kerajaan Aceh Darussalam, untuk mengambil alih Kerajaan Samudera Pasai. Pada tahun 1524, akhirnya Kerajaan Samudra Pasai dimasukkan ke dalam wilayah Kerajaan Aceh Darussalam.

Hal tersebut dibuktikan dengan pemindahan Lonceng Cakra Donya milik Kerajaan Samudera Pasai ke Kerajaan Aceh Darussalam. Nah, Lonceng Cakra Donya ini juga merupakan peninggalan dari Kesultanan Samudra Pasai, ya!


Nah, itu tadi beberapa penjelasan tentang sejarah hingga runtuhnya Kerajaan Samudra Pasai.


C. Sejarah Kerajaan Aceh Darussalam 

Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaan Aceh atau disebut juga Kesultanan Aceh Darussalam adalah sebuah kerajaan Islam yang terletak di Sumatera tepatnya Nanggroe Aceh Darussalam. Sultan pertama yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam adalah Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1514 – 1528 M. Kerajaan Aceh Darussalam terbentuk menjelang runtuhnya Kerajaan Samudera Pasai. Seperti yang tercatat dalam sejarah, Samudera Pasai takluk oleh Majapahit pada tahun 1360 M. Sejak saat itu Kerajaan Samudera Pasai mengalami kemunduran. Dapat dikatakan Kerajaan Aceh Darussalam merupakan kelanjutan dari Samudera Pasai dalam hal meraih kegemilangan kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan Aceh Darussalam terlatak pada jalur pelayaran internasional yang sangat strategis. Dengan letaknya ini, Aceh Darussalam memiliki andil besar dalam urat nadi perdagangan dunia.


Raja-Raja Aceh Darussalam

Menurut kitab Bustanussalatin (ada juga yang menyebut Bustan As-Salatin) karangan Nuruddin Ar-Raniry, Kerajaan Aceh Darussalam berdiri setelah berhasil melepaskan diri dari Kerajaan Pedir. Berikut ini adalah raja – raja yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam:

1. Sultan Ali Mughayat Syah (1514 – 1528)

Sultan Ali Mughayat Syah merupakan sultan pertama yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam. Dibawah kekuasaannya, Aceh memperluas wilayahnya hingga ke Pattani, Thailand. Kerajaan lain seperti Puerlak (Aceh Timur), Pedir (Pidie), Daya (Aceh Barat) dan Aru (Sumatera Utara) berhasil ditaklukkan dari kekuasaan Portugis.

Sultan Ali Mughayat Syah dikenal sangat anti terhadap Portugis. Pasukan Sultan Ali Mughayat Syah mampu memukul mundur Portugis hingga kembali ke India. Pada akhir jabatannya, Kerajaan Aceh Darusaalam sudah memperoleh kekuasaan yang mencakup hampir separuh Sumatera, sebagian Semenanjung Malaya, hingga ke Pattani, Thailand Selatan.

Beliau juga menerapkan dasar – dasar politik luar negeri, meliputi :

  • Pemenuhan kebutuhan sendiri
  • Menjalin persahabatan dengan kerajaan – kerajaan Islam di Nusantara
  • Bersikap waspada terhadap kolonial Barat
  • Menerima bantuan tenaga ahli dari luar, dan
  • Menjalankan dakwah Islam ke seluruh Nusantara

 

2. Sultan Salahuddin (1528-1537 M)

Sultan Salahuddin selama memerintah Kerajaan Aceh Darussalam tidak berbuat banyak dalam hal kemajuan Aceh Darussalam. Keadaan Aceh Darussalam dari Mughayat Syah ke Sultan Salahuddin merosot tajam. Akibatnya, beliau digantikan oleh saudaranya yang bernama Alaudin Riayat Syah Al-Kahar.

 

3. Sultan Alaudin Riayat Syah Al-Kahar (1537-1568 M)

Pada pemerintahan Sultan Alaudin Riayat Syah Al-Kahar, Kerajaan Aceh Darussalam membenahi berbagai sektor. Beliau sempat berusaha memperluas kerajaan dengan menyerang Kerajaan Malaka namun mengalami kegagalan. Pada akhir jabatannya, pemerintahan Kerajaan Aceh mengalami masa suram dimana banyak terjadi pemberontakan dan perebutan kekuasaan.

 

4. Sultan Iskandar Muda (1607-1636)

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Aceh Darussalam mengalami puncak kejayaan. Kerajaan Aceh menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas perdagangan Islam di dunia. Pencapaian emas ini ditandai dengan penaklukkan kerajaan Johor dan Portugis di Semenanjung Malaya. Dengan dikuasainya wilayah ini, daerah-daerah perdagangan Aceh Darussalam semakin luas dan juga penghasil lada dapat dikuasai.

Pemerintahan Inggris dan Belanda yang datang untuk membeli rempah – rempah kepada Aceh Darussalam ditolak. Pada masa kekuasaannya terdapat dua ahli tasawuf dari Aceh Darussalam, yaitu Syech Syamsuddin bin Abdullah As-Sumaterani dan Syech Ibrahim ASy-Syamsi. Setelah meninggalnya Sultan Iskandar Muda, beliau kemudian digantikan oleh menantunya, Iskandar Tsani.

 

Kehidupan Ekonomi

Letaknya yang strategis, yaitu terletak pada wilayah urat nadi perdagangan India-Cina, membuat Kerajaan Aceh Darussalam lebih condong ke bidang pelayaran dan perdagangan. Perkembangan pesat Kerajaan Aceh Darussalam tidak terlepas dari penaklukkan wilayah penghasil lada dan jalur pelayaran dunia. Akibat perluasan ini, Aceh menjadi tempat transit sebelum para pedagang melanjutkan perjalanan ke bagian barat.

Lada dan emas menjadi komoditas utama Kerajaan Aceh Darussalam. Di sekitar Tanjung Malaka dihasilkan banyak lada dan timah. Perkembangan pesat ini membuat Kerajaan Aceh Darussalam mampu membangun armada-armada perang hebat. Berikut ini beberapa faktor yang menguntungkan Aceh Darussalam dalam membangun perekonomiannya :

  • Letak yang strategis
  • Lumbung lada
  • Perlindungan pelabuhan internasional Aceh seperti pulau Weh, Pulau Nasi, Pulau Breuh dan ancaman gelombang besar
  • Penaklukkan Malaka oleh Portugis berimbas para pedagang di Malaka berpindah ke Aceh

 

Kehidupan Sosial Budaya

Kehidupan sosial budaya Aceh Darussalam sangat kental dengan budaya Islam. Hukum Islam yang menjadi landasan hukum adat saat itu adalah Qanun Meukuta Alam al-Asyi. Menurut Qanun Meukuta Alam al-Asyi, pengangkatan sultan haruslah sesuai dengan mufakat hukum adat. Oleh karena itu, pengangkatan sultan dilakukan dengan suatu prosesi. Calon sultan berdiri di atas tabal, sedangkan ulama memegang Qur’an berdiri di sebelah kanan dan perdana menteri berdiri di bagian kiri. Beberapa kewenangan yang diatur dalam Qanun Meukuta Alam al-Asyi adalah :

  • Mengangkat panglima sagi dan ulebalang pada pengangkatan mereka mendapat kehrmatan bunyi dentuman meriam sebanyak 21 kali
  • Mengadili perkara yang berhubungan dengan pemerintahan
  • Menerima kunjungan kehormatan termasuk pedagang – pedagang asing
  • Mengangkat ahli hukum (ulama)
  • Mengangkat orang cerdik pandai untuk mengurus kerajaan
  • Melindungi rakyat dari kesewenang – wenangan para pejabat kerajaan

Pada bidang sosial, terdapat istilah Teuku, yaitu golongan bangsawan yang mengurus pemerintahan dan kekuasaan sipil. Sedangkan Teungku adalah golongan ulama yang memegang peranan sebagai pemuka dan pengambil keputusan penting berkaitan dengan kehidupan beragama. Sultan Iskandar Muda berhasil menanamkan jiwa Islam dalam kehidupan masyarakat Aceh. Selain itu, Aceh juga memiliki perasaan merdeka, rasa kesatuan dan persatuan yang kental, dan sangat anti terhadap penjajah. Melalui sifat-sifat tersebutlah bangsa Belanda kesulitan menguasai wilayah ini.

 

Runtuhnya Kerajaan Aceh Darussalam

Pasca meninggalnya Sultan Iskandar Muda, beliau digantikan oleh Sultan Iskandar Tsani. Sultan Iskandar Tsani masih mampu mempertahankan kejayaan kerajaan. Namun, sepeninggal Sultan Iskandar Tsani, Kerajaan Aceh Darussalam mulai dilanda konflik internal yang disebabkan oleh penolakan terhadap penobatan Sultanah Safiatuddin oleh para ulama.

Pada paruh abad ke-18, Aceh mulai mengalami ketegangan dengan Inggris dan Belanda yang mencapai puncaknya pada abad ke-19. Wilayah Kerajaan Aceh Darussalam mulai menyempit pada akhir abad ke-18 dengan ditandai penaklukkan dan direbutnya wilayah Semenanjung Malaya, yaitu Kedah dan Pulau Pinang, oleh Inggris. Puncaknya terjadi pada tanggal 26 Maret 1873 yang ditandai dengan adanya maklumat perang dari Belanda atas Kerajaan Aceh Darussalam. Berturut-turut pada tahun 1883, 1892, dan 1893, Belanda menyerang Aceh, namun mengalami kegagalan.

Akan tetapi, situasi berubah ketika seorang sarjana Belanda yang berasal dari Universitas Leiden bernama Snouck Hurgronje mengusulkan taktik perang kepada Belanda. Dia mengatakan bahwa basis kekuatan kerajaan Aceh Darussalam bukan berasal dari sultan, melainkan dari ulama. Oleh karena itu, ia menginginkan agar jika Belanda ingin menyerang Aceh, maka hancurkan dulu ulama-ulama Aceh.

Taktik ini membuahkan hasil. Pada tahun 1903, diangkatlah Jenderal J.B. van Heutz sebagai gubernur. Seiring dengan ini, M. Daud telah menyerah kepada Belanda dan pada tahun 1904 hampir seluruh Kerajaan Aceh Darussalam diambil alih oleh Belanda. Walaupun demikian, Kerajaan Aceh Darussalam tidak pernah menyerahkan kedaulatan sepenuhnya kepada Belanda. Sebagai catatan, perang Belanda melawan Aceh merupakan perang terlama yang dilalui sepanjang sejarah.

 

Peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam

1. Masjid Raya Baiturrahman

Masjid ini menjadi kebanggaan rakyat Aceh hingga saat ini. Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612. Masjid ini juga sempat dibakar oleh Belanda pada saat Agresi Militer Belanda II, namun Belanda membangunnya kembali untuk meredam kemarahan rakyat Aceh.

 

 2. Benteng Indra Patra

Sebenarnya, benteng ini sudah ada sejak masa Kerajaan Lamuri. Kerajaan Lamuri merupakan kerajaan Hindu tertua di Aceh, tepatnya sejak abad ke 7 Masehi. Benteng ini memiliki arti penting dalam melindungi rakyat Aceh dari serangan-serangan meriam yang diluncurkan kapal perang Portugis. Kini benteng ini berada di Desa Ladong, Kecamatan Mesjid Raya, Kab. Aceh Besar.

 

3. Gunongan

Gunongan adalah sebuah bangunan yang dibangun oleh Sultan Aceh untuk permaisurinya dari Negeri Pahang. Pada saat itu, negeri Pahang telah takluk kepada kerajaan Aceh, dan seorang putri yang cantik dari Kerajaan Pahang ditawan oleh Aceh. Sultan ketika itu menginginkan menikahi putri tersebut. Hingga pada akhirnya putri itu meminta dibuatkan sebuah taman yang sama dengan kerajaannya dulu untuk mengobati kerinduannya akan Kerajaan Pahang.