Rangkuman Materi PAI Kelas 10 Bab 5 Kurikulum Merdeka
Assalamualaikum Wr Wb,
Halo sahabat pendidikan dimanapun anda berada, salam
sejahtera bagi kita semua.
Pada Kesempatan kali ini saya sebagai admin akan memberikan
informasi tentang rangkuman materi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
jenjang SMA kelas 10 Bab 5
Bab 6 - Meneladani Peran Ulama Penyebar Ajaran Islam di Indonesia
A. Masuknya Agama Islam di Indonesia
B. Sejarah kerajaan Samudra Pasai
Berdirinya Kerajaan samudra Pasai
Selain Kerajaan Hindu-Buddha, ternyata Nusantara juga punya
Kerajaan atau Kesultanan Islam, loh. Munculnya Kesultanan Islam di Indonesia
disebabkan oleh para pedagang Islam dari Arab, India, dan Persia yang awalnya
singgah untuk berdagang, lama-kelamaan menetap dan membangun kerajaan.
Sebenarnya, ada banyak Kesultanan Islam di Indonesia. Salah satu yang terkenal
adalah Kesultanan Samudra Pasai.
Kesultanan Samudra Pasai diperkirakan berdiri pada
pertengahan abad ke-13 Masehi. Kerajaan Samudra Pasai didirikan oleh
Malikussaleh atau Malik al-Saleh. Kerajaan ini terletak di Kecamatan Samudera,
Kabupaten Aceh Utara. Wilayah tersebut diapit oleh dua sungai besar, yaitu
Sungai Peusangan dan Sungai Pasai.
Sumber sejarah dari Kerajaan Samudra Pasai antara lain
Hikayat Raja-Raja Pasai, Kitab Sejarah Melayu, Tuhfat Al Nazha yang ditulis
oleh Ibnu Batutah, hingga prasasti yang berbahasa Arab dan Melayu Kuno.
Raja-Raja Samudra Pasai
Kesultanan Samudra Pasai dipimpin oleh raja atau sultan yang
juga memberikan pengaruhnya terhadap kerajaan dan masyarakat sekitar. Berikut
ini telah dirangkum nama-nama raja yang pernah memimpin Kerajaan Samudra Pasai
beserta masa kepemimpinannya. Yuk, lihat gambar di bawah.
1. Sultan Malik Al-Saleh (1267-1297)
Pada tahun 1267, Kerajaan Samudera Pasai dipimpin oleh Meurah
Silu dengan gelar Sultan Malik Al-Saleh. Di masa pemerintahannya, Kerajaan Samudra
Pasai berhasil menguasai Selat Malaka yang pada saat itu menjadi pusat
perdagangan internasional dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor
utamanya. Selain lada, Kerajaan Samudera Pasai juga mengekspor sutra dan kapur
barus.
Kerajaan Samudra Pasai menjadi pusat perdagangan karena
letaknya yang strategis sehingga banyak disinggahi oleh berbagai orang dari
mancanegara. Selain itu, komoditas yang dihasilkan, yaitu lada, sangat
dibutuhkan oleh masyarakat dunia.
Meurah Silu atau Sultan Malik al-Saleh merupakan pendiri dan
raja pertama Samudra Pasai (berdiri pada tahun 1267 M). Meurah Silu memeluk
Islam berkat pertemuannya dengan Syekh Ismail dari Mekah. Setelah masuk Islam,
Meurah Silu bergelar Sultan Malik al-Saleh, dan berkuasa selama 29 tahun.
Kesultanan Samudra Pasai merupakan gabungan dari Kerajaan Peurlak dan Kerajaan
Pase.
Sultan Malik al-Saleh merupakan tokoh penyebar Islam di Nusantara dan Asia Tenggara. Hal ini disebabkan oleh kuatnya pengaruh kekuasaan Samudra Pasai di bawah kepemimpinan Sultan Malik al-Saleh. Semasa berkuasa, sempat menerima kunjungan dari Marco Polo. Dan menurut catatan Marco Polo, Sultan Malik al-Saleh merupakan raja yang kaya dan kuat pengaruhnya.
Beliau wafat pada tahun 1297 M, dan kepemimpinan Samudra Pasai digantikan oleh Sultan Muhammad Malik al-Zahir (1297-1326 M). Sultan Malik al-Saleh dimakamkan di desa Beuringin Kecamatan Samudra, kira-kira 17 km sebelah timur Lhokseumawe. Di nisan Sultan Malik al-Saleh tertulis aksara Arab, yang terjemahnya “ini adalah makam almarhum yang diampuni, yang kuat dalam beribadah, sang penakluk yang bergelar Sultan Malik al- Saleh”.
2. Sultan
Muhammad Az-Zahir (1297-1326)
Setelah Sultan Malik Al-Saleh wafat pada tahun 1297, kepemimpinan
Kerajaan Samudera Pasai dilanjutkan oleh anaknya, yaitu Sultan Muhammad Malik
Az-Zahir. Sang raja baru ini untuk pertama kalinya memperkenalkan koin emas
atau dirham sebagai mata uang.
Mata uang dirham secara resmi digunakan dalam perdagangan di
Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1297. Mata uang ini berupa kepingan emas
yang memiliki diameter 10 mm dan berat sekitar 0,6 gram. Sisi atas bertuliskan
Muhammad Malik Al-Zahir dan sisi bawah bertuliskan Al-Sultan al-adil yang
artinya sultan harus memberi keadilan terhadap masyarakat.
3. Sultan Mahmud Malik Az-Zahir (1326-1345)
Pada tahun 1326, takhta kerajaan diteruskan oleh Sultan Mahmud Malik Az-Zahir. Di masa pemerintahannya, Kerajaan Samudra Pasai terkenal sebagai kerajaan dagang yang maju. Di tempat ini, banyak dijumpai pedagang dari India dan Cina yang membeli rempah-rempah, terutama lada. Selain itu, di Kerajaan Samudra Pasai terdapat beberapa jenis barang dari Cina yang dapat dibeli pedagang tanpa harus berlayar ke Cina.
Pada masa pemerintahannya, Kesultanan Samudra Pasai dikunjungi oleh seorang penjelajah dari Maroko, yaitu Ibnu Batutah. Menurut catatan Ibnu Batutah, Sultan Ahmad sangat memperhatikan perkembangan dan kemajuan agama Islam. Beliau berusaha keras untuk menyebarkan ajaran Islam ke berbagai wilayah di sekitar Samudra Pasai.
Masa Kejayaan Samudra Pasai
Berikut ini telah dirangkum beberapa aspek yang mendukung kemajuan Kerajaan Samudera Pasai. Mau tau apa aja? Yuk, simak gambar berikut.
Masa Kemunduran Samudera Pasai
Tidak selamanya kerajaan mengalami kejayaan, pasti ada masanya ia akan runtuh. Sama halnya dengan Kerajaan Samudra Pasai. Pada tahun 1521, di bawah pimpinan Sultan Zain Al-Abidin, Portugis menyerang kerajaan ini karena iri dengan kemajuan dagang mereka yang begitu pesat. Angkatan perang Portugis yang lebih kuat akhirnya berhasil menaklukkan Kerajaan Samudra Pasai.
Keadaan kerajaan yang melemah ini kemudian dimanfaatkan oleh Sultan Ali Mughayat Syah, raja Kerajaan Aceh Darussalam, untuk mengambil alih Kerajaan Samudera Pasai. Pada tahun 1524, akhirnya Kerajaan Samudra Pasai dimasukkan ke dalam wilayah Kerajaan Aceh Darussalam.
Hal tersebut dibuktikan dengan pemindahan Lonceng Cakra Donya milik Kerajaan Samudera Pasai ke Kerajaan Aceh Darussalam. Nah, Lonceng Cakra Donya ini juga merupakan peninggalan dari Kesultanan Samudra Pasai, ya!
Nah, itu tadi beberapa penjelasan tentang sejarah hingga runtuhnya Kerajaan Samudra Pasai.
C. Sejarah Kerajaan Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh atau disebut juga Kesultanan Aceh Darussalam adalah sebuah kerajaan Islam yang terletak di Sumatera tepatnya Nanggroe Aceh Darussalam. Sultan pertama yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam adalah Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1514 – 1528 M. Kerajaan Aceh Darussalam terbentuk menjelang runtuhnya Kerajaan Samudera Pasai. Seperti yang tercatat dalam sejarah, Samudera Pasai takluk oleh Majapahit pada tahun 1360 M. Sejak saat itu Kerajaan Samudera Pasai mengalami kemunduran. Dapat dikatakan Kerajaan Aceh Darussalam merupakan kelanjutan dari Samudera Pasai dalam hal meraih kegemilangan kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan Aceh Darussalam terlatak pada jalur pelayaran internasional yang sangat strategis. Dengan letaknya ini, Aceh Darussalam memiliki andil besar dalam urat nadi perdagangan dunia.
Raja-Raja Aceh Darussalam
Menurut kitab Bustanussalatin (ada juga yang menyebut Bustan As-Salatin) karangan Nuruddin Ar-Raniry, Kerajaan Aceh Darussalam berdiri setelah berhasil melepaskan diri dari Kerajaan Pedir. Berikut ini adalah raja – raja yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam:
1. Sultan Ali Mughayat Syah (1514 – 1528)
Sultan Ali Mughayat Syah merupakan sultan pertama yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam. Dibawah kekuasaannya, Aceh memperluas wilayahnya hingga ke Pattani, Thailand. Kerajaan lain seperti Puerlak (Aceh Timur), Pedir (Pidie), Daya (Aceh Barat) dan Aru (Sumatera Utara) berhasil ditaklukkan dari kekuasaan Portugis.
Sultan Ali Mughayat Syah dikenal sangat anti terhadap Portugis. Pasukan Sultan Ali Mughayat Syah mampu memukul mundur Portugis hingga kembali ke India. Pada akhir jabatannya, Kerajaan Aceh Darusaalam sudah memperoleh kekuasaan yang mencakup hampir separuh Sumatera, sebagian Semenanjung Malaya, hingga ke Pattani, Thailand Selatan.
Beliau juga menerapkan dasar – dasar politik luar negeri, meliputi :
- Pemenuhan kebutuhan sendiri
- Menjalin persahabatan dengan kerajaan – kerajaan Islam di Nusantara
- Bersikap waspada terhadap kolonial Barat
- Menerima bantuan tenaga ahli dari luar, dan
- Menjalankan dakwah Islam ke seluruh Nusantara
2. Sultan Salahuddin (1528-1537 M)
Sultan Salahuddin selama memerintah Kerajaan Aceh Darussalam
tidak berbuat banyak dalam hal kemajuan Aceh Darussalam. Keadaan Aceh
Darussalam dari Mughayat Syah ke Sultan Salahuddin merosot tajam. Akibatnya,
beliau digantikan oleh saudaranya yang bernama Alaudin Riayat Syah Al-Kahar.
3. Sultan Alaudin Riayat Syah Al-Kahar (1537-1568 M)
Pada pemerintahan Sultan Alaudin Riayat Syah Al-Kahar,
Kerajaan Aceh Darussalam membenahi berbagai sektor. Beliau sempat berusaha
memperluas kerajaan dengan menyerang Kerajaan Malaka namun mengalami kegagalan.
Pada akhir jabatannya, pemerintahan Kerajaan Aceh mengalami masa suram dimana
banyak terjadi pemberontakan dan perebutan kekuasaan.
4. Sultan Iskandar Muda (1607-1636)
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Aceh Darussalam
mengalami puncak kejayaan. Kerajaan Aceh menjadi kerajaan besar dan berkuasa
atas perdagangan Islam di dunia. Pencapaian emas ini ditandai dengan
penaklukkan kerajaan Johor dan Portugis di Semenanjung Malaya. Dengan
dikuasainya wilayah ini, daerah-daerah perdagangan Aceh Darussalam semakin luas
dan juga penghasil lada dapat dikuasai.
Pemerintahan Inggris dan Belanda yang datang untuk membeli
rempah – rempah kepada Aceh Darussalam ditolak. Pada masa kekuasaannya terdapat
dua ahli tasawuf dari Aceh Darussalam, yaitu Syech Syamsuddin bin Abdullah
As-Sumaterani dan Syech Ibrahim ASy-Syamsi. Setelah meninggalnya Sultan
Iskandar Muda, beliau kemudian digantikan oleh menantunya, Iskandar Tsani.
Kehidupan Ekonomi
Letaknya yang strategis, yaitu terletak pada wilayah urat
nadi perdagangan India-Cina, membuat Kerajaan Aceh Darussalam lebih condong ke
bidang pelayaran dan perdagangan. Perkembangan pesat Kerajaan Aceh Darussalam
tidak terlepas dari penaklukkan wilayah penghasil lada dan jalur pelayaran
dunia. Akibat perluasan ini, Aceh menjadi tempat transit sebelum para pedagang
melanjutkan perjalanan ke bagian barat.
Lada dan emas menjadi komoditas utama Kerajaan Aceh
Darussalam. Di sekitar Tanjung Malaka dihasilkan banyak lada dan timah. Perkembangan
pesat ini membuat Kerajaan Aceh Darussalam mampu membangun armada-armada perang
hebat. Berikut ini beberapa faktor yang menguntungkan Aceh Darussalam dalam
membangun perekonomiannya :
- Letak yang
strategis
- Lumbung lada
- Perlindungan
pelabuhan internasional Aceh seperti pulau Weh, Pulau Nasi, Pulau Breuh dan
ancaman gelombang besar
- Penaklukkan
Malaka oleh Portugis berimbas para pedagang di Malaka berpindah ke Aceh
Kehidupan
Sosial Budaya
Kehidupan sosial budaya Aceh Darussalam sangat kental dengan
budaya Islam. Hukum Islam yang menjadi landasan hukum adat saat itu adalah
Qanun Meukuta Alam al-Asyi. Menurut Qanun Meukuta Alam al-Asyi, pengangkatan
sultan haruslah sesuai dengan mufakat hukum adat. Oleh karena itu, pengangkatan
sultan dilakukan dengan suatu prosesi. Calon sultan berdiri di atas tabal,
sedangkan ulama memegang Qur’an berdiri di sebelah kanan dan perdana menteri
berdiri di bagian kiri. Beberapa kewenangan yang diatur dalam Qanun Meukuta
Alam al-Asyi adalah :
- Mengangkat
panglima sagi dan ulebalang pada pengangkatan mereka mendapat kehrmatan bunyi
dentuman meriam sebanyak 21 kali
- Mengadili
perkara yang berhubungan dengan pemerintahan
- Menerima
kunjungan kehormatan termasuk pedagang – pedagang asing
- Mengangkat ahli
hukum (ulama)
- Mengangkat orang
cerdik pandai untuk mengurus kerajaan
- Melindungi
rakyat dari kesewenang – wenangan para pejabat kerajaan
Pada bidang sosial, terdapat istilah Teuku, yaitu golongan bangsawan yang mengurus pemerintahan dan kekuasaan sipil. Sedangkan Teungku adalah golongan ulama yang memegang peranan sebagai pemuka dan pengambil keputusan penting berkaitan dengan kehidupan beragama. Sultan Iskandar Muda berhasil menanamkan jiwa Islam dalam kehidupan masyarakat Aceh. Selain itu, Aceh juga memiliki perasaan merdeka, rasa kesatuan dan persatuan yang kental, dan sangat anti terhadap penjajah. Melalui sifat-sifat tersebutlah bangsa Belanda kesulitan menguasai wilayah ini.
Runtuhnya Kerajaan Aceh Darussalam
Pasca meninggalnya Sultan Iskandar Muda, beliau digantikan
oleh Sultan Iskandar Tsani. Sultan Iskandar Tsani masih mampu mempertahankan
kejayaan kerajaan. Namun, sepeninggal Sultan Iskandar Tsani, Kerajaan Aceh
Darussalam mulai dilanda konflik internal yang disebabkan oleh penolakan
terhadap penobatan Sultanah Safiatuddin oleh para ulama.
Pada paruh abad ke-18, Aceh mulai mengalami ketegangan dengan
Inggris dan Belanda yang mencapai puncaknya pada abad ke-19. Wilayah Kerajaan
Aceh Darussalam mulai menyempit pada akhir abad ke-18 dengan ditandai
penaklukkan dan direbutnya wilayah Semenanjung Malaya, yaitu Kedah dan Pulau
Pinang, oleh Inggris. Puncaknya terjadi pada tanggal 26 Maret 1873 yang
ditandai dengan adanya maklumat perang dari Belanda atas Kerajaan Aceh
Darussalam. Berturut-turut pada tahun 1883, 1892, dan 1893, Belanda menyerang
Aceh, namun mengalami kegagalan.
Akan tetapi, situasi berubah ketika seorang sarjana Belanda yang
berasal dari Universitas Leiden bernama Snouck Hurgronje mengusulkan taktik
perang kepada Belanda. Dia mengatakan bahwa basis kekuatan kerajaan Aceh
Darussalam bukan berasal dari sultan, melainkan dari ulama. Oleh karena itu, ia
menginginkan agar jika Belanda ingin menyerang Aceh, maka hancurkan dulu
ulama-ulama Aceh.
Taktik ini membuahkan hasil. Pada tahun 1903, diangkatlah
Jenderal J.B. van Heutz sebagai gubernur. Seiring dengan ini, M. Daud telah
menyerah kepada Belanda dan pada tahun 1904 hampir seluruh Kerajaan Aceh
Darussalam diambil alih oleh Belanda. Walaupun demikian, Kerajaan Aceh
Darussalam tidak pernah menyerahkan kedaulatan sepenuhnya kepada Belanda.
Sebagai catatan, perang Belanda melawan Aceh merupakan perang terlama yang
dilalui sepanjang sejarah.
Peninggalan
Kerajaan Aceh Darussalam
1. Masjid Raya Baiturrahman
Masjid ini menjadi kebanggaan rakyat Aceh hingga saat ini.
Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada tahun
1612. Masjid ini juga sempat dibakar oleh Belanda pada saat Agresi Militer
Belanda II, namun Belanda membangunnya kembali untuk meredam kemarahan rakyat
Aceh.
2. Benteng Indra Patra
Sebenarnya, benteng ini sudah ada sejak masa Kerajaan Lamuri.
Kerajaan Lamuri merupakan kerajaan Hindu tertua di Aceh, tepatnya sejak abad ke
7 Masehi. Benteng ini memiliki arti penting dalam melindungi rakyat Aceh dari serangan-serangan
meriam yang diluncurkan kapal perang Portugis. Kini benteng ini berada di Desa
Ladong, Kecamatan Mesjid Raya, Kab. Aceh Besar.
3. Gunongan
Gunongan adalah sebuah bangunan yang dibangun oleh Sultan
Aceh untuk permaisurinya dari Negeri Pahang. Pada saat itu, negeri Pahang telah
takluk kepada kerajaan Aceh, dan seorang putri yang cantik dari Kerajaan Pahang
ditawan oleh Aceh. Sultan ketika itu menginginkan menikahi putri tersebut.
Hingga pada akhirnya putri itu meminta dibuatkan sebuah taman yang sama dengan
kerajaannya dulu untuk mengobati kerinduannya akan Kerajaan Pahang.




