Rangkuman Materi PAI Kelas 11 Bab 6 Kurikulum Merdeka
Assalamualaikum Wr Wb,
Halo sahabat pendidikan dimanapun anda berada, salam sejahtera bagi kita semua.
Pada Kesempatan kali ini saya sebagai admin akan memberikan informasi tentang rangkuman materi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam jenjang SMA kelas 11 Bab 6.
Bab 6 - Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia
A. Masuknya Agama Islam di Indonesia
B. Sejarah kerajaan Demak
Berdirinya Kerajaan Demak
Untuk mengetahui bagaimana proses berdirinya kerajaan Demak,
maka perlu penulis jelaskan mulai dari cikal bakal terbentuknya kerajaan Demak tersebut.
Hal ini bermula dari seiring dengan merosotnya pengaruh Majapahit, kota-kota di
daerah pantai secara perlahan didominasi oleh para pendatang Muslim. Para
pendatang tersebut secara bertahap membuka bandar-bandar dagang baru, yang
dapat menyaingi bandar dagang Majapahit. Bintoro atau Demak (dahulu bernama
Desa Glagah Wangi), adalah salah satu kota pantai yang menjadi saingan bandar dagang
Majapahit. Para pedagang dari berbagai negara, berkumpul di Bintoro untuk
berdagang.
Pada masa Raja Kertabhumi memerintah Majapahit (1474-1478 M),
Demak dipimpin oleh seorang adipati yang beragama Islam, yaitu Raden Fatah.
Raden Fatah merupakan putra dari Raja Kertabhumi (dari istri Cina), yang diasuh
oleh Arya Damar atau Swang Liong di Palembang. Demak, di bawah Raden Fatah
menjadi kota yang sangat maju, sebab letaknya sangat strategis. Kepemimpinan
yang handal menyebabkan Demak semakin dikenal oleh kalangan pedagang, baik dari
dalam maupun luar Nusantara.
Hal inilah yang kemudian dapat menyaingi kehebatan Majapahit dalam
bidang perniagaan. Raden Fatah, dalam waktu singkat dapat mengumpulkan
orang-orang beragama Islam yang fanatik, baik keturunan Cina maupun Jawa, yang
bermukim di Demak. Orang-orang tersebut disusun menjadi kekuatan dan digunakan
sebagai angkatan perang yang dimiliki oleh Kadipaten Demak. Hal tersebut
merupakan keberhasilan Raden Fatah dalam membuat suatu wadah bagi masyarakat
Islam, yang lambat laun berubah menjadi semacam kekuatan, baik dalam militer, kekuasaan
maupun ekonomi. Kekuatan tersebut, selanjutnya, menjadi modal utama, bagi
Kerajaan Demak, untuk memisahkan diri dengan Kerajaan Majapahit.
Pada perkembangan selanjutnya, secara terang-terangan Demak memisahkan
diri dari Majapahit. Keberhasilan tersebut, tentunya tidak terlepas dari
bantuan daerah-daerah pesisir seperti Jepara, Surabaya, Kudus, dan Banten.
Demak menjadi kerajaan yang berdiri sendiri dan bercorak Islam, pada tahun 1478
M, dengan raja pertamanya yaitu Raden Fatah. Dengan gelar “Sultan Sri Alam
Akbar atau Senopati Jinbun Ngabdur Rahman Panembahan Palembang Sayidin
Panatagama”.
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pada mulanya
Raden Fatah hanya seorang yang berkedudukan Adipati yang dinaungi oleh kerajaan
besar yang bernama Demak, namun berkat kegigihan, keuletan kerja keras, dan
kecerdasaan dari Raden Fatah sehingga ia mampu untuk mencari pengikut yang
fanatik dan siap berkorban maka Demak yang dipimpin olehnya mampu dikenal oleh
semua penjuru dan dapat menyaingi perdagangan yang dilakukan oleh Kerajaan
Majapahit. Sehingga lambat laun Demak bisa memisahkan diri dari kerajaan Majapahit
dan menjadi kerajaan sendiri.
Raja-Raja Kerajaan Demak
Pada masa kekuasaan kerajaan Demak maka terdapat
sultan-sultan yang pernah menjabat sebagai sultan Demak, yaitu :
1. Raden Fatah (1478-1518 M)
Raden Fatah lahir di Palembang pada tahun 1455 M dan wafat di
Demak pada tahun 1518 M. Beliau adalah putra raja Majapahit, Brawijaya V
(1468-1478 M) dan ibunya adalah seorang putri cina yang bernama Dewi Ni Endang
Sasmitapuri. Menurut Babad Tanah Jawi, putri cina itu adalah putri dari Kiai
Batong (Tan Go Hwat).
Ketika Raden Fatah dalam kandungan, bapaknya menitipkannya kepada
Gubernur Palembang, di sanalah Raden Fatah lahir. Proses penitipan itu terjadi
karena Brawijaya ingin menobatkan putri Cina itu sebagai permaisuri, akan
tetapi permaisuri Brawijaya yaitu ratu Dwarawati tidak menginginkan hal itu,
sehingga Brawijaya meminta anaknya yang berada di Palembang yaitu Raden Arya
Damar untuk membawa putri Cina tersebut. Dari putri Cina itulah Raden Fatah
lahir yang kelak menjadi Sultan pertama Kerajaan Demak dan beliau wafat pada
tahun 1518 M. Setelah kelahiran Raden Fatah, Arya Damar menikahi putri cina itu
dan dikarunia putra yang bernama Raden Kusein.
Kedua anak itu (Raden Fatah dan Raden Kusein) kemudian disuruh
pergi ke pulau Jawa. Raden Fatah disuru belajar ilmu keagamaan kepada Sunan
Ampel sedangkan Kusein disuruh mengabdi kepada Kerajaan Majapahit. Alhasil,
setelah keduanya sampai di Ampel, Kusein mengajak Fatah untuk mengabdi kepada
Majapahit, namun Fatah tidak mau karena Raja Majapahit masih beragama Hindu dan
lebih memilih tinggal di Ampel menjadi santri Sunan Ampel. Sebelum menjadi
Sultan di daerah Glagahwangi yang kelak menjadi Demak, Raden Fatah ditugasi untuk
membuka pesantren di sana. Galgahwangi terletak di tepian sungai tuntang yang
sangat luas sehinga bisa dilayari oleh kapal yang biasa berlayar di lautan. Tak
lama kemudian, daerah itu berkembang dengan jumlah penduduk sekitar 10.000
jiwa.
Perkembangan itu akhirnya diketahui oleh Prabu Brawijaya V, dan
menanyakan kepada Adipati Terung Pecattondho yang nama kecilnya adalah Kusein,
kemudian Kusein mengatakan bahwa yang berkuasa di daerah Glagahwangi itu adalah
putra Prabu Brawijaya. Akhirnya Raden Fatah diangkat untuk menjadi Adipati di
daerah Glagahwangi yang akhirnya dikenal dengan Demak.
Selain nyantri di Sunan Ampel, Raden Fatah juga adalah salah satu
muridnya Sunan Kudus yang ulung. Setelah memimpin kerajaan Demak, Raden Fatah
selalu didampingi Sunan Kudus. Raden Fatah memang sungguh-sungguh ingin
mengembangkan Islam sesuai dengan cita-cita guru-gurunya. Beliau sangat
menginginkan agar Agama Islam menjadi agama yang unggul di antara agama-agama
yang lain. Usaha untuk mengembangkan
Islam, bisa dibuktikan dengan pembangunan masjid Demak yang pada akhirnya
dijadikan pusat pendidikan kerajaan Demak. Selain dalam bidang keagamaan, Raden
Fatah juga membangun sistem pemerintahan Demak yang bagus, hal ini bisa dilihat
dari kelengkapan alat negara terus disusun. Alat upacara kenegaraan mengambil
dari kerajaan Majapahit, sedangkan dalam bidang pertahanan, beliau telah
membentuk angkatan perang.
Pada kepemimpinan Raden Fatah, Demak sudah mencapai kesuksesan
dan kejayaan. Dalam masa pemerintahan Raden Fatah, Demak berhasil dalam
berbagai bidang, di antaranya adalah perluasan dan pertahanan kerajaan,
pengembangan Islam dan pengamalannya, serta penerapan musyawarah dan kerja sama
antara ulama dan umara. Keberhasilan Raden Fatah dalam perluasan dan pertahanan
kerajaan dapat dilihat ketika ia menaklukkan Girindra Wardhana yang merebut tahta
Majapahit (1478 M), hingga dapat menggambil alih kekuasaan Majapahit. Selain
itu, Raden Fatah juga mengadakan perlawan terhada portugis, yang telah
menduduki Malaka dan ingin mengganggu Demak. Ia mengutus pasukan di bawah
pimpinan putranya, Pati Unus atau Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor (1511
M), meski akhirnya gagal. Setelah Raden Fatah wafat, kepemimpinan Demak
dilanjutkan oleh putranya yang bernama Pati Unus.
2. Pati Unus (1518-1521 M)
Setelah Raden Fatah wafat, tahta Kerajaan Demak dilanjutkan oleh
anaknya yang bernama Pati Unus dengan gelar Sultan Demak Syah Alam Akbar.17
Pati Unus dikenal dengan Pengeran Sabrang Lor, beliau seorang raja yang tegas
dalam mengambil keputusan dan seorang kesatria, bangsawan. Beliau memimpin
Kerajaan Demak selama 3 tahun yaitu dari tahun 1518-1521 M.
Semangat perang Pati Unus telah tampak sejak Demak dipimpin oleh
bapaknya, sehingga ia pernah ditugasi untuk memimpin tentara Demak untuk
menyerang Portugis, meski akhirnya mengalami kekalahan akibat ombak yang yang
sangat besar dan kuatnya pasukan Portugis. Tak lama setelah menjabat Sultan
Kerajaan Demak, ia merencanakan serangan terhadap Malaka yang saat itu sudah
dikuasi oleh Portugis. Pada tahun 1512 M Demak mengirimkan armada perangnya
menuju Malaka. Namun setalah armada sampai dipantai Malaka, armada pangeran sabrang
lor dihujani meriam oleh pasukan Portugis yang dibantu oleh menantu sultan
Mahmud, yaitu Sultan Abdullah raja dari Kampar. Serangan kedua dilakukan pada
tahun 1521 M oleh pangeran sabrang lor atau Adipati Unus, tetapi kembali gagal.
Selain itu, dia berhasil mengadakan perluasan wilayah
kerajaan. Dia menghilangkan kerajaan Majapahit yang beragama Hindu, yang pada saat
itu sebagian wilayahnya menjalin kerja sama dengan orang-orang Portugis.
Adipati Unus wafat pada tahun 938 H/1521 M. Kemudian kepemimpinan Demak
digantikan oleh Sultan Trenggana.
3. Sultan Trenggana (1521-1546 M)
Setelah Pati Unus wafat pada tahun 1521 M, pemerintahan kerajaan
Demak dilanjutkan oleh saudaranya yang bernama Sultan Trenggana. Sultan
Trenggana memerintah Demak dari tahun 1521-1546 M. Di bawah pemerintahannya,
Kerajaan Demak mencapai masa kejayaan. Sultan Trenggana berusaha memperluas
daerah kekuasaannya hingga ke daerah barat yaitu sampai daerah Banten dan ke
timur sampai ke kota Malang.
Pada tahun 1522 M Kerajaan Demak mengirim pasukannya ke Jawa
Barat di bawah pimpinan Fatahillah, Daerah-daerah yang berhasil dikuasainya
antara lain Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Penguasaan terhadap daerah ini
bertujuan untuk menggagalkan hubungan antara Portugis dan Kerajaan Pajajaran.
Armada Portugis dapat dihancurkan oleh armada Demak pimpinan Fatahillah. Dengan
kemenangan itu, Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta
(berarti kemenangan penuh). Peristiwa yang terjadi pada tanggal 22 juni 1527 M itu
kemudian di peringati sebagai hari jadi kota Jakarta.
Dalam usaha memperluas kekuasaannya ke Jawa Timur, Sultan Trenggana
memimpin sendiri pasukannya. Satu persatu daerah Jawa Timur berhasil dikuasai,
seperti Madiun, Gresik, Tuban dan Malang. Akan tetapi ketika menyerang Pasuruan
953 H/1546 M Sultan Trenggana gugur. Usahanya untuk memasukan kota pelabuhan
yang kafir itu ke wilayahnya dengan kekerasan ternyata gagal. Dengan demikian,
maka Sultan Trenggana berkuasa selama 25 tahun.
Sepeninggalan Sultan Trenggana, keluarganya mengalami perpecahan
terkait dengan siapa yang akan meneruskan kepemimpinan Demak. Kemudian, adik
dari Sultan Trenggana menaiki tahta Kerajaan Demak pada tahun 1546 M. Karena
banyak keluarganya tidak setuju atas kepemimpnan Prawoto, maka Adipati Jipang
(Bojonegoro), Arya Penangsang, membunuh Prawoto pada tahun 1546 M. Dari
perpecahan itulah timbul pembunuhan yang pada akhirnya Kerajaan Demak berakhir pada
saat itu. Bahkan dikabarkan, kerajaan hancur karena pertempuran keluarga
tersebut.
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa Kerajaan Demak selama
masa berdirinya kerajaan tersebut dipimpin oleh empat orang raja yang semua itu
merupakan anggota keluarga kerajaan. Dengan adanya empat kepemimpinan tersebut
maka terdapat pula empat macam jenis model kepemimpinan hal ini disebabkan oleh
karakter dari masingmasing pemimpin kerajaan Demak tersebut.
Masa Kejayaan Kerajaan Demak
Kerajaan Demak memiliki masa kejayaan pada saat kepemimpinan Sultan Tranggana, yang mana masa kejayaan tampak terlihat pada tahun 1527 M yang mana berhasil menguasai daerah Tuban, tahun 1529-1530 M berhasil menaklukkan daerah Madiun, tahun 1530 M daerah yang ditaklukkan adalah Blora, daerah Surabaya tahun 1531 M, sedangkan Pasuruan tahun 1534 M, Gunung Penanggungan 1540 M, serta Kediri dan Malang baerhasil ditaklukkan tahun 1545 M.24 Trenggana yang dilantik sebagai Sultan oleh Sunan Gunung Jati dengan gelar Sultan Ahmad Abdul ‘Arifin, ia memerintah pada tahun 1524 M-1546 M. pada masa pemerintahan Sultan Ahmad inilah Islam dikembangkan ke seluruh pulau jawa, bahkan sampai ke Kalimantan Selatan. Penaklukan Sunda Kelapa berakhir tahun 1527 M yang dilakukan oleh pasukan gabungan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fadhilah Khan. Majapahit dan Tuban jatuh ke bawah kekuasaan kerajaan Demak diperkirakan pada tahun 1527 M itu juga. Selanjutnya, pada tahun 1529 M, Demak berasil menundukkan Madiun, Blora (1530 M), Surabaya (1531 M), Pasuruan (1535 M), dan antara tahun 1541 M-1542 M Lamongan, Blitar, Wirasaba, dan kediri (1544 M). Palembang dan Banjarmasin mengakui kekuasaan Demak. Sementara daerah Jawa Tengah bagian Selatan sekitar Gunung Merapi, Pengging, dan Pajang berhasil dikuasai pemuka Islam.
Demak berkuasa kurang lebih setengan abad, keberhasilan yang telah dicapai bahkan keberhasilan itu masih bisa dirasakan hingga sekarang antara lain sebagai berikut:
1. Sultan Raden Fatah pernah menyusun kitab undang-undang dan
peraturan bidang hukum. Namanya adalah Salokantara. Di Dalamnya menerangkan
tentang kepemimpinan keagamaan yang pernah menjadi hakim, mereka disebut
dharmadhyaksa dan kertopatti.
2. Gelar penghulu (kepala) juga sudah dipakai oleh imam Masjid
Demak.
3. Bertambahnya bangunan militer di Demak dan ibu kota
lainnya di Pulau Jawa.
4. Masjid Demak menjadi pusat peribadatan Kerajaan Demak.
5. Munculnya kesenian seperti wayang orang, topeng, gamelan,
tembang macapat dan perkembangan sastra lainnya.
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa masa kejayaan
kerajaan Demak bukan hanya terjadi di masa kepemimpinan Sultan Trenggana saja,
tetapi terjadi pula di masa kepemimpinan sebelum kepemimpinannya, yakni pada
masa Raden Fatah dan Pati Unus. Namun, puncak dari kejayaan kerajaan Demak tersebut
berada di tangan Sultan Trenggana, yang mana puncak kejayaannya mulai terlihat
pada tahun 1524 M. Sehingga Sultan Trenggana sering digadang-gadang sebagai
puncak dari masa kejayaan kerajaan Demak.
Masa Kemunduran Kerajaan Demak
Setelah mengalami masa-masa kejayaan, Kesultanan Demak juga mengalami
masa kemunduran seperti Kerajaan-Kerajaan di Jawa lainnya. Di antara
penyebabnya, adalah adanya perebutan kekuasaan. Perebutan kekuasaan ini terjadi
di kalangan persaudaraan, sehingga ada yang menyebutnya sebagai “Perang
Saudara” di Kesultanan Demak. Dan hal tersebut sudah terindikasi setelah
sepeninggalnya Adipati Unus. Pengganti Adipati Unus adalah Pangeran Sedo Lepen,
tetapi ia dibunuh oleh putra Trenggana yaitu Pangeran Prawoto.
Masa kemunduran kerajaan Demak yakni setelah wafatnya Sultan Trenggana,
yang mana Konflik politik Kerajaan Demak terjadi setelah wafatnya Sultan
Trenggana pada tahun 1546 M telah mengantarkan putra Sultan Trenggana, Sunan
Prawoto menjadi raja Demak ke 4 sebagai penerus kekuasaan. Pengangkatan Sunan
Prawoto menjadi raja Demak ke 4 mengakibatkan rasa kecewa terhadap Arya
Penangsang. Arya Penangsang merasa lebih berhak menduduki tahta sebagai raja
Demak ke 4 karena sebelum Sultan Trenggana dilantik menjadi raja Demak ke 3,
terjadi sebuah pristiwa pembunuhan Pangeran Sekar Seda Lepen ayah Arya
Penangsang oleh Sunan Prawoto. Peristiwa pembunuhan Pangeran Sekar Seda Lepen menjadi
pangkal persengketaan di Kerajaan Demak. Arya Penangsang berusaha menuntut
balas atas kematian ayahnya dan merebut Kembali kekuasaan di Kerajaan Demak.
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa Kerajaan Demak
mengalami kemunduran ketika Sultan Trenggana wafat, lalu digantikan oleh Sunan
Prawoto, sehingga menyebabkan kekecewaan dari beberapa pihak anggota keluarga
kerajaan, sehingga menyebabkan terjadinya problem internal dalam keluarga,
sehingga hal ini menyebabkan sumber awal dari kemunduran Kerajaan Demak.
Faktor Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Demak
Pendapat dari Saifudin Zuhri di kutib dari buku yang di
karang oleh Slamet Muljana, menyimpulkan bahwa runtuhnya Kesultanan Demak diakibatkan
oleh sebab-sebab utama, di antaranya:
1. Politik luar negeri terlalu menyedot perhatian sehingga
urusan dalam negeri banyak terabaikan, bahkan potensinya tersedot untuk
pertahanan luar negeri.
2. Tidak adanya keseimbangan antara politik dengan dakwah
sehingga peran politik kering dari jiwa-jiwa dakwah.
3. Diabaikannya sistem musyawarah. Ketenteraman pada zaman
Raden Fatah sangat didukung oleh sistem musyawarah. Tetapi sepeninggalnya,
sistem musyawarah mulai terabaikan dan terjalinnya hubungan dengan ulama pada
waktu itu hanya sebagai simbol saja.
4. Timbulnya pertentangan antara penguasa.
Itulah beberapa faktor penyebab runtuhnya kerajaan Demak,
yang menjadi penyebab utama kehancuran dari kerajaan Demak yakni kacaunya politik
kerajaan Demak pada waktu itu.
C. Sejarah Kerajaan Mataram
BERDIRINYA KERAJAAN MATARAM ISLAM
Pada awalnya, wilayah Mataram
diberikan Hadiwijaya ke Ki Gede Pemananhan / Ki Ageng Pemanahan karena jasanya
membantu Hadiwijaya memerangi Arya Penangsang di Jipang Panolan. Ki Ageng
Pemanahan diceritakan sebagai penguasa yang patuh kepada Sultan Pajang. Ia naik
tahta pada tahun 1577 M dan menempati istananya di Kotagede. Sejak saat itulah
wilayah Mataram mulai menunjukkan kemajuan. Ki Ageng Pemanahan meninggal pada
tahun 1584 M dan digantikan oleh Sutawijaya.
Sutawijaya yang bergelar
Panembahan Senapati menggantikan Ki Ageng Pemanahan. Sutawijaya merupakan
seorang ahli dalam hal berperang. Saat ia masih mengawal Hadiwijaya, raja
Pajang, ia diberi gelar Senapati Ing Alaga (panglima perang). Senapati memiliki
cita – cita yaitu menjadikan Mataram sebagai penguasa tertinggi di tanah Jawa
menggantikan Kerajaan Pajang. Untuk itu, ia kemudian membuat dua rencana yaitu
memerdekakan diri dari Pajang dan memperluas kekuasaan. Konflik yang terjadi
antara Pajang yang dipimpin Arya Pangiri dan Pangeran Benawa yang dibantu
Sutawijaya dimenangkan oleh Pangeran Benawa dan Sutawijaya. Hak ahli waris dari
Pajang kemudian diserahkan ke Pangeran Benawa. Pangeran Benawa sebenarnya ingin
menyerahkan kekuasaan kepada Sutwaijaya atas dasar jasa yang diberikan, namun
Sutawijaya menolak dan meminta kekuasaan Pajang tunduk kepada Mataram. Secara
tidak langsung, Pajang menjadi bagian Mataram.
Sejak saat itu, Senapati
mengambil gelar Panembahan pada tahun 1586. Wilayah Mataram di antaranya adalah
Mataram, Kedu, dan Banyumas. Sutawijaya meninggal pada tahun 1601 dan telah
menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hanya Blambangan, Panarukan dan Bali yang
masih merdeka, sedangkan wilayah kadipaten di pantai utara seperti Lasem, Pati,
Demak, Pekalongan mengakui dan tunduk kepada Mataram.
Setelah Sutawijaya meninggal, ia
kemudian digantikan oleh Raden Mas Jolang. Raden Mas Jolang bergelar Sultan
Hanyakrawati yang memerintah dari tahun 1601 hingga tahun 1613. Pada masa
pemerintahannya, banyak terjadi pemberontakan – pemberontakan di pantai utara
Jawa, hal inilah alasan mengapa Raden Mas Jolang tidak bisa memperluas wilayah
Mataram. Dalam masa pemerintahannya, Raden Mas Jolang lebih condong ke masalah
pembangunan dibandingkan dengan ekspansi atau perluasan wilayah. Raden Mas
Jolang kemudian dilanjutkan oleh Raden Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung
Hanyakrakusuma Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahman. Sultan Agung memerintah dari
tahun 1613 hingga 1645. Pada masa pemerintahannya kerajaan Mataram mencapai
puncak kejayaan.
MASA KEJAYAAN MATARAM ISLAM
Mataram mencapai puncak kejayaan
pada masa pemerintahan Sultan Agung atau Raden Mas Rangsang. Sultan Agung lebih
memilih ibukota di Karta dari pada di Kotagede. Ia dikenal karena ekspansinya,
bukan hanya di Jawa tapi juga beberapa pulau di luar Jawa. Musuh Sultan Agung
bukan hanya kerajaan – kerajaan di pesisir Jawa dan kerajaan Hindu Blambangan,
namun juga penjajah Eropa yaitu Portugis dan Belanda.
Sebagai seorang yang beragama
Islam, Sultan Agung sangat taat kepada agama dan menjadi panutan bagi
rakyatnya. Ia bahkan membuat kalender tarikh (kalender baru Jawa – Islam) pada
tahun 1633. Untuk mengukuhkan kedudukannya, ia mengutus abdinya untuk pergi ke
Mekkah dan pulang ke Mataram membawa gelar Sultan kepadanya serta membawa ahli
– ahli agama untuk menjadi penasihat raja Mataram. Sultan Agung kemudian
mendapat gelar baru yaitu Sultan Abu Muhammad Maulana Matarami.
Namun, setelah Sultan Agung wafat
pada tahun 1645, para penggantinya tak secakap dirinya dan beberapa
keturunannya terlebih memihak ke para penjajah seperti Belanda. Hal ini memberi
kesempatan kepada Belanda untuk berkoloni dan membentuk wilayah jajahan di
Nusantara.
KERAJAAN MATARAM DALAM BEBERAPA
ASPEK
Aspek Ekonomi
Mataram terletak di pedalaman
Jawa, perekonomian Mataram adalah dari bidang pertanian. Mataram menghasilkan
beras, gula dan gula aren. Hasil – hasil tersebut berasal dari Gunungkidul.
Gula kelapa dan gula aren kemudian diekspor ke luar melalui Tembayat dan Wedi.
Mataram tidak memiliki dasar –
dasar maritim atau perkapalan. Pada masa Sutawijaya, ia ingin membuat pelabuhan
di laut Hindia (Samudra Hindia) bahkan sudah sampai tahap pembentukan. Namun,
bagaimanapun ombak laut Hindia terlalu besar dan tidak memungkinkan untuk
membuat pelabuhan. Sedangkan disisi lain, laut Jawa masih dikuasai oleh orang –
orang Tionghoa dari Kesultanan Demak pada masa pemerintahan dinasti Jin Bun.
Kehidupan Sosial Agama Kerajaan
Mataram dan Partisipasi Ulama
Pada mas pemerintahan Sultan
Agung, para ulama terbagi menjadi tiga yaitu, ulama yang berdarah bangsawan,
ulama yang bekerja untuk birokrasi dan ulama pedesaan yang tidak menjadi alat
birokrasi. Sebagai seorang pemimpin, Sultan Agung selalu mempertimbangkan
nasehat dari para ulama.
Para ulama pada masa pemerintahan
Sultan Agung berkonsentrasi mengembangkan budaya Islam agar melekat di hati
masyarakat Mataram diantaranya dengan akulturasi. Salah satunya adalah Sunan
Kalijaga yang berusaha keras agar ajaran Islam mampu diserap oleh masyarakat
Mataram tanpa menghilangkan kebudayaan yang ada sebelumnya. Berbagai cara
penyaluran dilakukan diantaranya dengan mengakulturasikan budaya islam dengan
karya seni dan tradisi yang sudah melekat di hati masyarakat.
Perkembangan agama Islam di
pesisir dan di pedalaman Jawa memberikan warna baru pada agama Islam dan
membentuk suatu sinkretisme layaknya agama Siwa Buddha di kerajaan Majapahit.
Akulturasi Islam dan budaya Jawa inilah yang kemudian terkenal dengan nama
Islam Kejawen.
Penggunaan gelar Sayidin
Panatagama oleh Senopati menunjukkan bahwa Kerajaan Mataram telah sah menjadi
kerajaan Islam. Raja menjadi seorang pemimpin dan pengatur agama (panatagama).
Mataram Islam banyak menerima peradaban dan kebudayaan Islam dari pesisir pulau
Jawa yang merupakan wilayah Islam yang lebih tua daripada Mataram. Raja tidak
hanya sebagai pemimpin rohani, namun juga pengatur di bidang politik. Mataram
menciptakan hubungan erat dengan Kesultanan Cirebon terutama dalam hal
penyebaran agama Islam. Sifat mistik dari Keraton Cirebon menyebabkan Islam
mudah di terima dan berkembang di Mataram. Islam tersebut tentunya bersinkretis
dengan budaya mistisme dari Hindu dan Buddha.
Pada masa pemerintahan Amangkurat
I para ulama tergeser dan terjadi de-Islamisasi. Perjuangan penyebaran Islam
yang sebelumnya dilakukan oleh Sultan Agung dan para ulama tidak diteruskan
oleh Amangkurat I. Banyak ulama yang dibunuh sehingga kehidupan beragama
merosot, disisi lain dekadensi moral menghiasi keruntuhan pamor Mataram akibat
adanya campur tangan budaya asing.
Peran di Bidang Kebudayan Islam
Kebudayaan Mataram pada masa
terbentuknya kerajaan tidak terlalu berkembang dikarenakan dua alasan. Pertama,
belum adanya waktu untuk memikirkan hal-hal spiritual. Pada saat itu, Mataram
lebih fokus pada kemajuan ekonomi dan militer. Kegiatan pertanian digalakkan
dan kegiatan tersebut banyak menyita waktu. Kedua, perluasan wilayah lebih
bersifat fisik seperti perang bukan ke pengaruh penyebaran agama.
Kebudayaan Islam baru berkembang
pesat pada masa pemerintahan Sultan Agung dengan cara mengambil unsur-unsur
kebudayaan Islam yang berkembang di pesisir pantai utara Jawa dan Jawa Timur.
Hal ini bertujuan untuk mempertinggi martabat Keraton Mataram dalam hal
kebudayaan sesuai kedudukannya sebagai penyebar agama Islam di Tanah Jawa.
Sistem Politik Kesultanan Mataram
Perjalanan politik dari masa
pemerintahan Senopati Sutawijaya hingga Amangkurat I mengalami naik turun.
Pemerintahan Sultan Agung dengan Amangkurat I bahkan bertolak belakang sangat
jauh. Amangkurat I memutuskan rantai
misi yang diemban pendahulunya yaitu menjadi panutan dan penyebar agama di
Jawa.
Sistem politik internal kerajaan
seperti tata pemerintahan, sistem birokrasi, dan pengangkatan raja secara umum
tidak terjadi perubahan berarti, kecuali pada sistem pemerintahan wilayah –
wilayah kadipaten bawahan Mataram. Kedudukan raja Mataram didapat dari
keturunan atau warisan dari pendahulunya. Aturan raja yang akan menggantikan
pendahulunya adalah putra laki – laki, bahkan dari selir pun bisa dinobatkan
sebagai raja. Apabila keduanya tidak ada anak laki – laki, maka yang ditunjuk
adalah paman atau saudara laki – laki tua dari ayahnya bisa menjadi pengganti.
Sedangkan sistem eksternal
Kerajaan Mataram, terjadi perbedaan yang mencolok terutama dalam hal menghadapi
para penjajah. Ada beberapa raja Mataram yang bersikap anti pati namun adapula
yang kompromistis. Pada masa Senopati belum didengar terjadi hubungan antara
para penajajah dari Eropa dengan Kerajaan Mataram. Pada masa pemerintahan Mas
Jolang, kehadiran Belanda diterima dengan baik diakhir kekuasaanya. Hal ini
sangat berbeda dengan apa yang dilakukan Sultan Agung, beliau benar – benar
menyatakan perlawanan terhadap para penajajah. Berbagai cara dilakukan untuk
mengusir para penjajah. Dua kali pertempuran di Batavia dilakukan untuk melawan
VOC, masing – masing pada tahun 1628 dan 1629 walaupun pada akhirnya hanya
memperoleh kegagalan. Namun penguasa Mataram selanjutnya yaitu Amangkurat I
bertolak belakang dengan Sultan Agung. Ia lebih memilih berkompromi dan
bersahabat dengan Belanda.
MASA KEMUNDURAN MATARAM
Sepeninggal Sultan Agung, Mataram
diperintah oleh Amangkurat I dengan gelar Susushan Amangkurat I. Ia memerintah
Mataram dari tahun 1645 – 1677. Sebagai raja Mataram, Amangkurat I banyak
mengeluarkan kebijakan kontrofersial diantaranya :
- Tidak lagi menghargai ulama dan terkesan ingin menyingkirkannya. Pada masa pemerintahannya, banyak ulama dibunuh.
- Menghapus lembaga agama yang ada di Kerajaan Mataram seperti Mahkamah Syariah yang dahulu dibentuk ayahnya Sultan Agung.
- Membatasi perkembangan agama dan melarang kehidupan beragama dicampur aduk dengan masalah kesultanan.
- Membangun kerjasama dengan para penjajah
Kebijakan Amangkurat I yang
kontrofersial menuai kemarahan dari masyarakat Mataram. Terjadi perlawanan di
beberapa daerah diantaranya oleh Raden Kajoran. Ia menyusun kekuatan dengan
para santri dan rakyat sebagai pendukungnya. Ia juga didukung oleh Raden Anom
anak Sultan Amangkurat I dan Trunojoyo, seorang bangsawan yang berasal dari
Madura. Kekuatan pemberontak semakin kuat dengan bantuan dari Karaeng Galesong
seorang bangsawan dari Gowa.
Namun pada perkembangannya
Adipati Anom melakukan pengkhianatan dan keluar dari aliansi serta diampuni
ayahnya Amangkurat I. Pada tahun 1677, Raden Kajoran mengepung pusat pemerintah
Amangkurat I yang ada di Pleret. Amangkurat I dan anaknya melarikan diri ke
Batavia dan meminta bantuan kepada Belanda. Dalam pelariannya, Amangkurat I
jatuh sakit dan meninggal.
Sebelum wafat, Amangkurat I
memberikan mandat kepada Adipati Anom untuk menjadi Sultan Mataram baru
menggantikan dirinya. Setelah Adipati Anom dilantik, ia kemudian mendapat gelar
sebagai Sultan Amangkurat II dan kembali bekerja sama dengan Belanda untuk
merebut takhta kerajaan Mataram dengan perjanjian Jepara di mana Belanda
meminta upah wilayah timur Karawang dan upah dalam bentuk uang untuk jasanya
membantu merebut Mataram. Setelah perjanjian Jepara disetujui, Belanda beserta
Amangkurat II menyerang Mataram dan berhasil mengalahkan Raden Kajoran. Dengan
demikian, Mataram kembali ke tangan Amangkurat II.
Meskipun Mataram telah kembali direbut dan mengembalikan fungsi ulama dalam kerajaan, namun pada perkembangannya di Kerajaan Mataram masih ada persoalan-persoalan lain yang belum selesai. Sejak tahun 1743, wilayah Mataram hanya tinggal Bagelan, Kedu, Jogjakarta dan Surakarta. Tragisnya, Mataram harus terpecah menjadi dua oleh Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Mataram terpecah menjadi Kesunanan Surakarta dengan rajanya Susuhunan (Pakubuwono) dan Kesultanan Yogyakarta dengan Pangeran Mangkubumi (Hamengkubuwono I).
Pada tahun 1757, Kerajaan Surakarta pecah lagi menjadi wilayah yang dikuasai Pakubuwono dan wilayah yang dikuasai Mangkunegara I. Hal ini juga terjadi di Yogyakarta yang terpecah menjadi dua, yaitu wilayah Kesultanan yang dikuasai Sultan Hamengku Buwono III dan Kadipaten Pakualaman yang dipimpin Bendara Pangeran Natakusuma atau lebih dikenal dengan Pakualam I.
SEJARAH DAN ISI PERJANJIAN
GIYANTI (1755)
Perjanjian Giyanti merupakan
kesepakatan Mataram yang diwakili
Pakubuwono III, VOC serta kelompok Pangeran Mangkubumi atas pemecahan masalah
kerusuhan yang terjadi di Mataram pasca meninggalnya Sultan Agung. Perjanjian
ini kemudian ditandatangai pada 13 Februari 1755 dan menandai berakhirnya
Kerajaan Mataram. Penamaan Giyanti pada nama perjanjian Giyanti diambil dari
desa tempat kesepakatan ini dilakukan yaitu di Desa Giyanti (ejaan dari Belanda
yang sekarang berlokasi di Dukuh Kerten, Desa Jantiharjo), Karanganyar, Jawa
Tengah.
Isi Perjanjian Giyanti
Terdapat dua inti dari Perjanjian
Giyanti yaitu pembagian wilayah kerajaan Mataram, diantaranya :
- Wilayah Barat Mataram yang diserahkan kepada Mangkubumi yang kemudian menyandang gelar Hamengkubuwono I dengan keraton bernama Kasultanan Yogyakarta
- Wilayah Timur yang diserahkan kepada Pakubuwono III dengan keraton yang bernama Kasunanan Surakarta
Pembagian Wilayah
Perjanjian Giyanti membagi
Kerajaan Mataram menjadi dua wilayah, yaitu sebelah timur Kali Opak yang
dikuasai tahta Mataram (Sunan Pakubuwono III) dan sebelah barat Kali Opak
(Mataram asli) yang diserahkan kepada Mangkubumi yang sekaligus diangkat
menjadi Hamengkubuwono I yang berkedudukan di Yogyakarta. Di dalam Perjanjian
Giyanti terdapat poin penting yaitu VOC dapat menentukan siapa yang menguasai
kedua wilayah jika diperlukan.


