Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rangkuman Materi PAI Kelas 11 Bab 6 Kurikulum Merdeka

Assalamualaikum Wr Wb, 

Halo sahabat pendidikan dimanapun anda berada, salam sejahtera bagi kita semua.

Pada Kesempatan kali ini saya sebagai admin akan memberikan informasi tentang rangkuman materi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam jenjang SMA kelas 11 Bab 6.


  

Bab 6 - Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia 

A. Masuknya Agama Islam di Indonesia

    Kapan Islam masuk ke Nusantara Indonesia?. Siapakah yang membawa Islam ke Nusantara Indonesia? Daerah mana di antara pulau-pulau di Nusantara yang merupakan daerah pertama masuknya Islam? Pertanyan-pertanyaan tersebut selalu memunculkan beragam pendapat dan jawaban dari para sejarawan.
        Wilayah Nusantara sangat luas, posisi geografisnya terletak di persimpangan jalur perdagangan antara India, Cina dan Arabia. Maka sulit untuk memastikan wilayah mana yang pertama kali menerima ajaran Islam. Oleh karena itu, ada beberapa teori tentang masuknya agama Islam di Indonesia sebagaimana diungkapkan oleh Ahmad Mansyur Suryanegara dalam buku “Api Sejarah Jilid 1”. Teori-teori tersebut yaitu

a. Teori Gujarat oleh Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje
Menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia dari Gujarat. Snouck Hurgronje berkeyakinan bahwa tidak mungkin Islam masuk ke Indonesia langsung berasal dari Arabia tanpa melalui ajaran tasawuf yang berkembang di Gujarat, India. Wilayah Kerajaan Samudra Pasai merupakan daerah pertama penerima ajaran agama Islam, yakni pada abad ke-13 Masehi. Teori ini tidak menjelaskan secara rinci antara masuk dan berkembangnya Islam di wilayah ini. Tidak ada penjelasan mengenai mazhab apa yang berkembang di Samudra Pasai. Maka muncul pertanyaan besar, mungkinkah saat Islam datang langsung mampu mendirikan kerajaan yang memiliki kekuasaan politik besar?

b. Teori Makkah oleh Prof. Dr. Buya Hamka
Buya Hamka menggunakan berita yang diangkat dari Berita Cina Dinasti Tang sebagai acuan teori ini. Menurutnya, Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 Masehi. Berdasarkan Berita Cina Dinasti Tang, ditemukan pemukiman saudagar Arab di wilayah pantai barat Sumatera. Dari sini disimpulkan Islam dibawa masuk ke Indonesia oleh para saudagar yang berasal dari Arab. Jika kita perhatikan, kerajaan Samudra Pasai didirikan pada abad ke-13 M atau tahun 1275 M, artinya bukan awal masuknya Islam tetapi merupakan perkembangan agama Islam.

c. Teori Persia oleh Prof. Dr. Husein Djajadiningrat
Menurut teori ini, Islam masuk dari Persia dan bermazhab Syi’ah. Pendapat ini didasarkan pada sistem mengeja bacaan huruf Al-Qur`an, terutama di Jawa Barat yang menggunakan ejaan Persia.
Teori ini dipandang lemah, karena tidak semua pengguna sistem baca tersebut di Persia sebagai penganut Syi’ah. Pada saat itu, Baghdad sebagai ibu kota Kekhalifahan Bani Abbasiyah yang mayoritas khalifahnya merupakan penganut Ahlussunnah wal Jama’ah. Lebih dari itu, adanya fakta bahwa mayoritas muslim Jawa Barat bermazhab Syafi’i sekaligus berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan pengikut Syi’ah.

d. Teori Cina oleh Prof. Dr. Slamet Muljana
Menurut Slamet Muljana, Sultan Demak merupakan keturunan Cina, lebih dari itu menurutnya, Wali Songo juga merupakan keturunan Cina. Pendapat ini didasarkan pada Kronik Klenteng Sam Po Kong.
Misalnya, Sultan Demak Panembahan Fatah dalam Kronik Klenteng Sam Po Kong bernama Panembahan Jin Bun. Sultan Trenggana disebutkan dengan nama Tung Ka Lo. Sedangkan Wali Songo, Sunan Ampel dengan nama Bong Swi Hoo, Sunan Gunung Jati dengan nama Toh A Bo.
Perlu diketahui bahwa menurut kebudayaan Cina, penulisan sejarah yang terkait dengan penulisan nama tempat dan nama orang yang bukan dari negeri Cina, juga ditulis menurut bahasa Cina. Maka sangat mungkin seluruh nama- nama raja Majapahit juga dicinakan dalam Kronik Klenteng Sam Po Kong Semarang. Pertanyaannya, mengapa nama Sultan Demak dan para Wali Songo yang dicinakan dalam Kronik Klenteng Sam Po Kong dianggap sebagai orang Cina?. Tentu hal ini merupakan salah satu titik kelemahan teori ini.

e. Teori Maritim oleh N.A. Baloch
Walaupun di Makkah dan Madinah terjadi perang selama kurun waktu sepuluh tahun antara 1-11 H/622-623 M, namun tidak memutuskan jalur perdagangan laut yang sudah menjadi tradisi sejak lama. Jalur perdagangan tersebut adalah jalur antara Timur Tengah, India dan Cina. Hubungan perdagangan ini semakin lancar pada masa Khulafaur Rasyidin (11-41 H/632-661 M). Banyak juga para sahabat Nabi Saw. yang berdakwah keluar Madinah, bahkan di luar Jazirah Arab.
Menurut N.A. Baloch, hal itu terjadi karena umat Islam memiliki kemampuan dalam penguasaan perniagaan melalui jalur maritim. Melalui jalur ini, yakni pada abad ke-1 H atau abad ke-7 M, agama Islam dikenalkan di sepanjang jalur niaga di pantai-pantai tempat persinggahannya. Proses pengenalan ajaran Islam ini, berlangsung selama kurun waktu abad ke-1 sampai abad ke-5 H/7-12 M. Fase berikutnya adalah pengembangan agama Islam, terjadi mulai abad ke-6 H sampai ke pelosok Indonesia. Saudagar pribumi berperan penting dalam proses pengembangan agama Islam di pedalaman-pedalaman. Dimulai dari Aceh pada abad ke-9 M dan diikuti tumbuh dan berkembangnya kerajaan Islam di berbagai wilayah.



B. Sejarah kerajaan Demak 

Berdirinya Kerajaan Demak

Untuk mengetahui bagaimana proses berdirinya kerajaan Demak, maka perlu penulis jelaskan mulai dari cikal bakal terbentuknya kerajaan Demak tersebut. Hal ini bermula dari seiring dengan merosotnya pengaruh Majapahit, kota-kota di daerah pantai secara perlahan didominasi oleh para pendatang Muslim. Para pendatang tersebut secara bertahap membuka bandar-bandar dagang baru, yang dapat menyaingi bandar dagang Majapahit. Bintoro atau Demak (dahulu bernama Desa Glagah Wangi), adalah salah satu kota pantai yang menjadi saingan bandar dagang Majapahit. Para pedagang dari berbagai negara, berkumpul di Bintoro untuk berdagang.

Pada masa Raja Kertabhumi memerintah Majapahit (1474-1478 M), Demak dipimpin oleh seorang adipati yang beragama Islam, yaitu Raden Fatah. Raden Fatah merupakan putra dari Raja Kertabhumi (dari istri Cina), yang diasuh oleh Arya Damar atau Swang Liong di Palembang. Demak, di bawah Raden Fatah menjadi kota yang sangat maju, sebab letaknya sangat strategis. Kepemimpinan yang handal menyebabkan Demak semakin dikenal oleh kalangan pedagang, baik dari dalam maupun luar Nusantara.

Hal inilah yang kemudian dapat menyaingi kehebatan Majapahit dalam bidang perniagaan. Raden Fatah, dalam waktu singkat dapat mengumpulkan orang-orang beragama Islam yang fanatik, baik keturunan Cina maupun Jawa, yang bermukim di Demak. Orang-orang tersebut disusun menjadi kekuatan dan digunakan sebagai angkatan perang yang dimiliki oleh Kadipaten Demak. Hal tersebut merupakan keberhasilan Raden Fatah dalam membuat suatu wadah bagi masyarakat Islam, yang lambat laun berubah menjadi semacam kekuatan, baik dalam militer, kekuasaan maupun ekonomi. Kekuatan tersebut, selanjutnya, menjadi modal utama, bagi Kerajaan Demak, untuk memisahkan diri dengan Kerajaan Majapahit.

Pada perkembangan selanjutnya, secara terang-terangan Demak memisahkan diri dari Majapahit. Keberhasilan tersebut, tentunya tidak terlepas dari bantuan daerah-daerah pesisir seperti Jepara, Surabaya, Kudus, dan Banten. Demak menjadi kerajaan yang berdiri sendiri dan bercorak Islam, pada tahun 1478 M, dengan raja pertamanya yaitu Raden Fatah. Dengan gelar “Sultan Sri Alam Akbar atau Senopati Jinbun Ngabdur Rahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama”.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pada mulanya Raden Fatah hanya seorang yang berkedudukan Adipati yang dinaungi oleh kerajaan besar yang bernama Demak, namun berkat kegigihan, keuletan kerja keras, dan kecerdasaan dari Raden Fatah sehingga ia mampu untuk mencari pengikut yang fanatik dan siap berkorban maka Demak yang dipimpin olehnya mampu dikenal oleh semua penjuru dan dapat menyaingi perdagangan yang dilakukan oleh Kerajaan Majapahit. Sehingga lambat laun Demak bisa memisahkan diri dari kerajaan Majapahit dan menjadi kerajaan sendiri.

 

Raja-Raja Kerajaan Demak

Pada masa kekuasaan kerajaan Demak maka terdapat sultan-sultan yang pernah menjabat sebagai sultan Demak, yaitu :

1. Raden Fatah (1478-1518 M)

Raden Fatah lahir di Palembang pada tahun 1455 M dan wafat di Demak pada tahun 1518 M. Beliau adalah putra raja Majapahit, Brawijaya V (1468-1478 M) dan ibunya adalah seorang putri cina yang bernama Dewi Ni Endang Sasmitapuri. Menurut Babad Tanah Jawi, putri cina itu adalah putri dari Kiai Batong (Tan Go Hwat).

Ketika Raden Fatah dalam kandungan, bapaknya menitipkannya kepada Gubernur Palembang, di sanalah Raden Fatah lahir. Proses penitipan itu terjadi karena Brawijaya ingin menobatkan putri Cina itu sebagai permaisuri, akan tetapi permaisuri Brawijaya yaitu ratu Dwarawati tidak menginginkan hal itu, sehingga Brawijaya meminta anaknya yang berada di Palembang yaitu Raden Arya Damar untuk membawa putri Cina tersebut. Dari putri Cina itulah Raden Fatah lahir yang kelak menjadi Sultan pertama Kerajaan Demak dan beliau wafat pada tahun 1518 M. Setelah kelahiran Raden Fatah, Arya Damar menikahi putri cina itu dan dikarunia putra yang bernama Raden Kusein.

Kedua anak itu (Raden Fatah dan Raden Kusein) kemudian disuruh pergi ke pulau Jawa. Raden Fatah disuru belajar ilmu keagamaan kepada Sunan Ampel sedangkan Kusein disuruh mengabdi kepada Kerajaan Majapahit. Alhasil, setelah keduanya sampai di Ampel, Kusein mengajak Fatah untuk mengabdi kepada Majapahit, namun Fatah tidak mau karena Raja Majapahit masih beragama Hindu dan lebih memilih tinggal di Ampel menjadi santri Sunan Ampel. Sebelum menjadi Sultan di daerah Glagahwangi yang kelak menjadi Demak, Raden Fatah ditugasi untuk membuka pesantren di sana. Galgahwangi terletak di tepian sungai tuntang yang sangat luas sehinga bisa dilayari oleh kapal yang biasa berlayar di lautan. Tak lama kemudian, daerah itu berkembang dengan jumlah penduduk sekitar 10.000 jiwa.

Perkembangan itu akhirnya diketahui oleh Prabu Brawijaya V, dan menanyakan kepada Adipati Terung Pecattondho yang nama kecilnya adalah Kusein, kemudian Kusein mengatakan bahwa yang berkuasa di daerah Glagahwangi itu adalah putra Prabu Brawijaya. Akhirnya Raden Fatah diangkat untuk menjadi Adipati di daerah Glagahwangi yang akhirnya dikenal dengan Demak.

Selain nyantri di Sunan Ampel, Raden Fatah juga adalah salah satu muridnya Sunan Kudus yang ulung. Setelah memimpin kerajaan Demak, Raden Fatah selalu didampingi Sunan Kudus. Raden Fatah memang sungguh-sungguh ingin mengembangkan Islam sesuai dengan cita-cita guru-gurunya. Beliau sangat menginginkan agar Agama Islam menjadi agama yang unggul di antara agama-agama yang lain. Usaha  untuk mengembangkan Islam, bisa dibuktikan dengan pembangunan masjid Demak yang pada akhirnya dijadikan pusat pendidikan kerajaan Demak. Selain dalam bidang keagamaan, Raden Fatah juga membangun sistem pemerintahan Demak yang bagus, hal ini bisa dilihat dari kelengkapan alat negara terus disusun. Alat upacara kenegaraan mengambil dari kerajaan Majapahit, sedangkan dalam bidang pertahanan, beliau telah membentuk angkatan perang.

Pada kepemimpinan Raden Fatah, Demak sudah mencapai kesuksesan dan kejayaan. Dalam masa pemerintahan Raden Fatah, Demak berhasil dalam berbagai bidang, di antaranya adalah perluasan dan pertahanan kerajaan, pengembangan Islam dan pengamalannya, serta penerapan musyawarah dan kerja sama antara ulama dan umara. Keberhasilan Raden Fatah dalam perluasan dan pertahanan kerajaan dapat dilihat ketika ia menaklukkan Girindra Wardhana yang merebut tahta Majapahit (1478 M), hingga dapat menggambil alih kekuasaan Majapahit. Selain itu, Raden Fatah juga mengadakan perlawan terhada portugis, yang telah menduduki Malaka dan ingin mengganggu Demak. Ia mengutus pasukan di bawah pimpinan putranya, Pati Unus atau Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor (1511 M), meski akhirnya gagal. Setelah Raden Fatah wafat, kepemimpinan Demak dilanjutkan oleh putranya yang bernama Pati Unus.

2. Pati Unus (1518-1521 M)

Setelah Raden Fatah wafat, tahta Kerajaan Demak dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Pati Unus dengan gelar Sultan Demak Syah Alam Akbar.17 Pati Unus dikenal dengan Pengeran Sabrang Lor, beliau seorang raja yang tegas dalam mengambil keputusan dan seorang kesatria, bangsawan. Beliau memimpin Kerajaan Demak selama 3 tahun yaitu dari tahun 1518-1521 M.

Semangat perang Pati Unus telah tampak sejak Demak dipimpin oleh bapaknya, sehingga ia pernah ditugasi untuk memimpin tentara Demak untuk menyerang Portugis, meski akhirnya mengalami kekalahan akibat ombak yang yang sangat besar dan kuatnya pasukan Portugis. Tak lama setelah menjabat Sultan Kerajaan Demak, ia merencanakan serangan terhadap Malaka yang saat itu sudah dikuasi oleh Portugis. Pada tahun 1512 M Demak mengirimkan armada perangnya menuju Malaka. Namun setalah armada sampai dipantai Malaka, armada pangeran sabrang lor dihujani meriam oleh pasukan Portugis yang dibantu oleh menantu sultan Mahmud, yaitu Sultan Abdullah raja dari Kampar. Serangan kedua dilakukan pada tahun 1521 M oleh pangeran sabrang lor atau Adipati Unus, tetapi kembali gagal.

Selain itu, dia berhasil mengadakan perluasan wilayah kerajaan. Dia menghilangkan kerajaan Majapahit yang beragama Hindu, yang pada saat itu sebagian wilayahnya menjalin kerja sama dengan orang-orang Portugis. Adipati Unus wafat pada tahun 938 H/1521 M. Kemudian kepemimpinan Demak digantikan oleh Sultan Trenggana.

3. Sultan Trenggana (1521-1546 M)

Setelah Pati Unus wafat pada tahun 1521 M, pemerintahan kerajaan Demak dilanjutkan oleh saudaranya yang bernama Sultan Trenggana. Sultan Trenggana memerintah Demak dari tahun 1521-1546 M. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Demak mencapai masa kejayaan. Sultan Trenggana berusaha memperluas daerah kekuasaannya hingga ke daerah barat yaitu sampai daerah Banten dan ke timur sampai ke kota Malang.

Pada tahun 1522 M Kerajaan Demak mengirim pasukannya ke Jawa Barat di bawah pimpinan Fatahillah, Daerah-daerah yang berhasil dikuasainya antara lain Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Penguasaan terhadap daerah ini bertujuan untuk menggagalkan hubungan antara Portugis dan Kerajaan Pajajaran. Armada Portugis dapat dihancurkan oleh armada Demak pimpinan Fatahillah. Dengan kemenangan itu, Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta (berarti kemenangan penuh). Peristiwa yang terjadi pada tanggal 22 juni 1527 M itu kemudian di peringati sebagai hari jadi kota Jakarta.

Dalam usaha memperluas kekuasaannya ke Jawa Timur, Sultan Trenggana memimpin sendiri pasukannya. Satu persatu daerah Jawa Timur berhasil dikuasai, seperti Madiun, Gresik, Tuban dan Malang. Akan tetapi ketika menyerang Pasuruan 953 H/1546 M Sultan Trenggana gugur. Usahanya untuk memasukan kota pelabuhan yang kafir itu ke wilayahnya dengan kekerasan ternyata gagal. Dengan demikian, maka Sultan Trenggana berkuasa selama 25 tahun.

Sepeninggalan Sultan Trenggana, keluarganya mengalami perpecahan terkait dengan siapa yang akan meneruskan kepemimpinan Demak. Kemudian, adik dari Sultan Trenggana menaiki tahta Kerajaan Demak pada tahun 1546 M. Karena banyak keluarganya tidak setuju atas kepemimpnan Prawoto, maka Adipati Jipang (Bojonegoro), Arya Penangsang, membunuh Prawoto pada tahun 1546 M. Dari perpecahan itulah timbul pembunuhan yang pada akhirnya Kerajaan Demak berakhir pada saat itu. Bahkan dikabarkan, kerajaan hancur karena pertempuran keluarga tersebut.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa Kerajaan Demak selama masa berdirinya kerajaan tersebut dipimpin oleh empat orang raja yang semua itu merupakan anggota keluarga kerajaan. Dengan adanya empat kepemimpinan tersebut maka terdapat pula empat macam jenis model kepemimpinan hal ini disebabkan oleh karakter dari masingmasing pemimpin kerajaan Demak tersebut.

 

Masa Kejayaan Kerajaan Demak

Kerajaan Demak memiliki masa kejayaan pada saat kepemimpinan Sultan Tranggana, yang mana masa kejayaan tampak terlihat pada tahun 1527 M yang mana berhasil menguasai daerah Tuban, tahun 1529-1530 M berhasil menaklukkan daerah Madiun, tahun 1530 M daerah yang ditaklukkan adalah Blora, daerah Surabaya tahun 1531 M, sedangkan Pasuruan tahun 1534 M, Gunung Penanggungan 1540 M, serta Kediri dan Malang baerhasil ditaklukkan tahun 1545 M.24 Trenggana yang dilantik sebagai Sultan oleh Sunan Gunung Jati dengan gelar Sultan Ahmad Abdul ‘Arifin, ia memerintah pada tahun 1524 M-1546 M. pada masa pemerintahan Sultan Ahmad inilah Islam dikembangkan ke seluruh pulau jawa, bahkan sampai ke Kalimantan Selatan. Penaklukan Sunda Kelapa berakhir tahun 1527 M yang dilakukan oleh pasukan gabungan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fadhilah Khan. Majapahit dan Tuban jatuh ke bawah kekuasaan kerajaan Demak diperkirakan pada tahun 1527 M itu juga. Selanjutnya, pada tahun 1529 M, Demak berasil menundukkan Madiun, Blora (1530 M), Surabaya (1531 M), Pasuruan (1535 M), dan antara tahun 1541 M-1542 M Lamongan, Blitar, Wirasaba, dan kediri (1544 M). Palembang dan Banjarmasin mengakui kekuasaan Demak. Sementara daerah Jawa Tengah bagian Selatan sekitar Gunung Merapi, Pengging, dan Pajang berhasil dikuasai pemuka Islam.

Demak berkuasa kurang lebih setengan abad, keberhasilan yang telah dicapai bahkan keberhasilan itu masih bisa dirasakan hingga sekarang antara lain sebagai berikut:

1. Sultan Raden Fatah pernah menyusun kitab undang-undang dan peraturan bidang hukum. Namanya adalah Salokantara. Di Dalamnya menerangkan tentang kepemimpinan keagamaan yang pernah menjadi hakim, mereka disebut dharmadhyaksa dan kertopatti.

2. Gelar penghulu (kepala) juga sudah dipakai oleh imam Masjid Demak.

3. Bertambahnya bangunan militer di Demak dan ibu kota lainnya di Pulau Jawa.

4. Masjid Demak menjadi pusat peribadatan Kerajaan Demak.

5. Munculnya kesenian seperti wayang orang, topeng, gamelan, tembang macapat dan perkembangan sastra lainnya.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa masa kejayaan kerajaan Demak bukan hanya terjadi di masa kepemimpinan Sultan Trenggana saja, tetapi terjadi pula di masa kepemimpinan sebelum kepemimpinannya, yakni pada masa Raden Fatah dan Pati Unus. Namun, puncak dari kejayaan kerajaan Demak tersebut berada di tangan Sultan Trenggana, yang mana puncak kejayaannya mulai terlihat pada tahun 1524 M. Sehingga Sultan Trenggana sering digadang-gadang sebagai puncak dari masa kejayaan kerajaan Demak.

 

Masa Kemunduran Kerajaan Demak

Setelah mengalami masa-masa kejayaan, Kesultanan Demak juga mengalami masa kemunduran seperti Kerajaan-Kerajaan di Jawa lainnya. Di antara penyebabnya, adalah adanya perebutan kekuasaan. Perebutan kekuasaan ini terjadi di kalangan persaudaraan, sehingga ada yang menyebutnya sebagai “Perang Saudara” di Kesultanan Demak. Dan hal tersebut sudah terindikasi setelah sepeninggalnya Adipati Unus. Pengganti Adipati Unus adalah Pangeran Sedo Lepen, tetapi ia dibunuh oleh putra Trenggana yaitu Pangeran Prawoto.

Masa kemunduran kerajaan Demak yakni setelah wafatnya Sultan Trenggana, yang mana Konflik politik Kerajaan Demak terjadi setelah wafatnya Sultan Trenggana pada tahun 1546 M telah mengantarkan putra Sultan Trenggana, Sunan Prawoto menjadi raja Demak ke 4 sebagai penerus kekuasaan. Pengangkatan Sunan Prawoto menjadi raja Demak ke 4 mengakibatkan rasa kecewa terhadap Arya Penangsang. Arya Penangsang merasa lebih berhak menduduki tahta sebagai raja Demak ke 4 karena sebelum Sultan Trenggana dilantik menjadi raja Demak ke 3, terjadi sebuah pristiwa pembunuhan Pangeran Sekar Seda Lepen ayah Arya Penangsang oleh Sunan Prawoto. Peristiwa pembunuhan Pangeran Sekar Seda Lepen menjadi pangkal persengketaan di Kerajaan Demak. Arya Penangsang berusaha menuntut balas atas kematian ayahnya dan merebut Kembali kekuasaan di Kerajaan Demak.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa Kerajaan Demak mengalami kemunduran ketika Sultan Trenggana wafat, lalu digantikan oleh Sunan Prawoto, sehingga menyebabkan kekecewaan dari beberapa pihak anggota keluarga kerajaan, sehingga menyebabkan terjadinya problem internal dalam keluarga, sehingga hal ini menyebabkan sumber awal dari kemunduran Kerajaan Demak.

 

Faktor Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Demak

Pendapat dari Saifudin Zuhri di kutib dari buku yang di karang oleh Slamet Muljana, menyimpulkan bahwa runtuhnya Kesultanan Demak diakibatkan oleh sebab-sebab utama, di antaranya:

1. Politik luar negeri terlalu menyedot perhatian sehingga urusan dalam negeri banyak terabaikan, bahkan potensinya tersedot untuk pertahanan luar negeri.

2. Tidak adanya keseimbangan antara politik dengan dakwah sehingga peran politik kering dari jiwa-jiwa dakwah.

3. Diabaikannya sistem musyawarah. Ketenteraman pada zaman Raden Fatah sangat didukung oleh sistem musyawarah. Tetapi sepeninggalnya, sistem musyawarah mulai terabaikan dan terjalinnya hubungan dengan ulama pada waktu itu hanya sebagai simbol saja.

4. Timbulnya pertentangan antara penguasa.

Itulah beberapa faktor penyebab runtuhnya kerajaan Demak, yang menjadi penyebab utama kehancuran dari kerajaan Demak yakni kacaunya politik kerajaan Demak pada waktu itu.

 

 

C. Sejarah Kerajaan Mataram 

BERDIRINYA KERAJAAN MATARAM ISLAM

Pada awalnya, wilayah Mataram diberikan Hadiwijaya ke Ki Gede Pemananhan / Ki Ageng Pemanahan karena jasanya membantu Hadiwijaya memerangi Arya Penangsang di Jipang Panolan. Ki Ageng Pemanahan diceritakan sebagai penguasa yang patuh kepada Sultan Pajang. Ia naik tahta pada tahun 1577 M dan menempati istananya di Kotagede. Sejak saat itulah wilayah Mataram mulai menunjukkan kemajuan. Ki Ageng Pemanahan meninggal pada tahun 1584 M dan digantikan oleh Sutawijaya.

Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senapati menggantikan Ki Ageng Pemanahan. Sutawijaya merupakan seorang ahli dalam hal berperang. Saat ia masih mengawal Hadiwijaya, raja Pajang, ia diberi gelar Senapati Ing Alaga (panglima perang). Senapati memiliki cita – cita yaitu menjadikan Mataram sebagai penguasa tertinggi di tanah Jawa menggantikan Kerajaan Pajang. Untuk itu, ia kemudian membuat dua rencana yaitu memerdekakan diri dari Pajang dan memperluas kekuasaan. Konflik yang terjadi antara Pajang yang dipimpin Arya Pangiri dan Pangeran Benawa yang dibantu Sutawijaya dimenangkan oleh Pangeran Benawa dan Sutawijaya. Hak ahli waris dari Pajang kemudian diserahkan ke Pangeran Benawa. Pangeran Benawa sebenarnya ingin menyerahkan kekuasaan kepada Sutwaijaya atas dasar jasa yang diberikan, namun Sutawijaya menolak dan meminta kekuasaan Pajang tunduk kepada Mataram. Secara tidak langsung, Pajang menjadi bagian Mataram.

Sejak saat itu, Senapati mengambil gelar Panembahan pada tahun 1586. Wilayah Mataram di antaranya adalah Mataram, Kedu, dan Banyumas. Sutawijaya meninggal pada tahun 1601 dan telah menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hanya Blambangan, Panarukan dan Bali yang masih merdeka, sedangkan wilayah kadipaten di pantai utara seperti Lasem, Pati, Demak, Pekalongan mengakui dan tunduk kepada Mataram.

Setelah Sutawijaya meninggal, ia kemudian digantikan oleh Raden Mas Jolang. Raden Mas Jolang bergelar Sultan Hanyakrawati yang memerintah dari tahun 1601 hingga tahun 1613. Pada masa pemerintahannya, banyak terjadi pemberontakan – pemberontakan di pantai utara Jawa, hal inilah alasan mengapa Raden Mas Jolang tidak bisa memperluas wilayah Mataram. Dalam masa pemerintahannya, Raden Mas Jolang lebih condong ke masalah pembangunan dibandingkan dengan ekspansi atau perluasan wilayah. Raden Mas Jolang kemudian dilanjutkan oleh Raden Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahman. Sultan Agung memerintah dari tahun 1613 hingga 1645. Pada masa pemerintahannya kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaan.

 

MASA KEJAYAAN MATARAM ISLAM

Mataram mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung atau Raden Mas Rangsang. Sultan Agung lebih memilih ibukota di Karta dari pada di Kotagede. Ia dikenal karena ekspansinya, bukan hanya di Jawa tapi juga beberapa pulau di luar Jawa. Musuh Sultan Agung bukan hanya kerajaan – kerajaan di pesisir Jawa dan kerajaan Hindu Blambangan, namun juga penjajah Eropa yaitu Portugis dan Belanda.

Sebagai seorang yang beragama Islam, Sultan Agung sangat taat kepada agama dan menjadi panutan bagi rakyatnya. Ia bahkan membuat kalender tarikh (kalender baru Jawa – Islam) pada tahun 1633. Untuk mengukuhkan kedudukannya, ia mengutus abdinya untuk pergi ke Mekkah dan pulang ke Mataram membawa gelar Sultan kepadanya serta membawa ahli – ahli agama untuk menjadi penasihat raja Mataram. Sultan Agung kemudian mendapat gelar baru yaitu Sultan Abu Muhammad Maulana Matarami.

Namun, setelah Sultan Agung wafat pada tahun 1645, para penggantinya tak secakap dirinya dan beberapa keturunannya terlebih memihak ke para penjajah seperti Belanda. Hal ini memberi kesempatan kepada Belanda untuk berkoloni dan membentuk wilayah jajahan di Nusantara.

 

KERAJAAN MATARAM DALAM BEBERAPA ASPEK

Aspek Ekonomi

Mataram terletak di pedalaman Jawa, perekonomian Mataram adalah dari bidang pertanian. Mataram menghasilkan beras, gula dan gula aren. Hasil – hasil tersebut berasal dari Gunungkidul. Gula kelapa dan gula aren kemudian diekspor ke luar melalui Tembayat dan Wedi.

Mataram tidak memiliki dasar – dasar maritim atau perkapalan. Pada masa Sutawijaya, ia ingin membuat pelabuhan di laut Hindia (Samudra Hindia) bahkan sudah sampai tahap pembentukan. Namun, bagaimanapun ombak laut Hindia terlalu besar dan tidak memungkinkan untuk membuat pelabuhan. Sedangkan disisi lain, laut Jawa masih dikuasai oleh orang – orang Tionghoa dari Kesultanan Demak pada masa pemerintahan dinasti Jin Bun.

 

Kehidupan Sosial Agama Kerajaan Mataram dan Partisipasi Ulama

Pada mas pemerintahan Sultan Agung, para ulama terbagi menjadi tiga yaitu, ulama yang berdarah bangsawan, ulama yang bekerja untuk birokrasi dan ulama pedesaan yang tidak menjadi alat birokrasi. Sebagai seorang pemimpin, Sultan Agung selalu mempertimbangkan nasehat dari para ulama.

Para ulama pada masa pemerintahan Sultan Agung berkonsentrasi mengembangkan budaya Islam agar melekat di hati masyarakat Mataram diantaranya dengan akulturasi. Salah satunya adalah Sunan Kalijaga yang berusaha keras agar ajaran Islam mampu diserap oleh masyarakat Mataram tanpa menghilangkan kebudayaan yang ada sebelumnya. Berbagai cara penyaluran dilakukan diantaranya dengan mengakulturasikan budaya islam dengan karya seni dan tradisi yang sudah melekat di hati masyarakat.

Perkembangan agama Islam di pesisir dan di pedalaman Jawa memberikan warna baru pada agama Islam dan membentuk suatu sinkretisme layaknya agama Siwa Buddha di kerajaan Majapahit. Akulturasi Islam dan budaya Jawa inilah yang kemudian terkenal dengan nama Islam Kejawen.

Penggunaan gelar Sayidin Panatagama oleh Senopati menunjukkan bahwa Kerajaan Mataram telah sah menjadi kerajaan Islam. Raja menjadi seorang pemimpin dan pengatur agama (panatagama). Mataram Islam banyak menerima peradaban dan kebudayaan Islam dari pesisir pulau Jawa yang merupakan wilayah Islam yang lebih tua daripada Mataram. Raja tidak hanya sebagai pemimpin rohani, namun juga pengatur di bidang politik. Mataram menciptakan hubungan erat dengan Kesultanan Cirebon terutama dalam hal penyebaran agama Islam. Sifat mistik dari Keraton Cirebon menyebabkan Islam mudah di terima dan berkembang di Mataram. Islam tersebut tentunya bersinkretis dengan budaya mistisme dari Hindu dan Buddha.

Pada masa pemerintahan Amangkurat I para ulama tergeser dan terjadi de-Islamisasi. Perjuangan penyebaran Islam yang sebelumnya dilakukan oleh Sultan Agung dan para ulama tidak diteruskan oleh Amangkurat I. Banyak ulama yang dibunuh sehingga kehidupan beragama merosot, disisi lain dekadensi moral menghiasi keruntuhan pamor Mataram akibat adanya campur tangan budaya asing.

 

Peran di Bidang Kebudayan Islam

Kebudayaan Mataram pada masa terbentuknya kerajaan tidak terlalu berkembang dikarenakan dua alasan. Pertama, belum adanya waktu untuk memikirkan hal-hal spiritual. Pada saat itu, Mataram lebih fokus pada kemajuan ekonomi dan militer. Kegiatan pertanian digalakkan dan kegiatan tersebut banyak menyita waktu. Kedua, perluasan wilayah lebih bersifat fisik seperti perang bukan ke pengaruh penyebaran agama.

Kebudayaan Islam baru berkembang pesat pada masa pemerintahan Sultan Agung dengan cara mengambil unsur-unsur kebudayaan Islam yang berkembang di pesisir pantai utara Jawa dan Jawa Timur. Hal ini bertujuan untuk mempertinggi martabat Keraton Mataram dalam hal kebudayaan sesuai kedudukannya sebagai penyebar agama Islam di Tanah Jawa.

 

Sistem Politik Kesultanan Mataram

Perjalanan politik dari masa pemerintahan Senopati Sutawijaya hingga Amangkurat I mengalami naik turun. Pemerintahan Sultan Agung dengan Amangkurat I bahkan bertolak belakang sangat jauh. Amangkurat I  memutuskan rantai misi yang diemban pendahulunya yaitu menjadi panutan dan penyebar agama di Jawa.

Sistem politik internal kerajaan seperti tata pemerintahan, sistem birokrasi, dan pengangkatan raja secara umum tidak terjadi perubahan berarti, kecuali pada sistem pemerintahan wilayah – wilayah kadipaten bawahan Mataram. Kedudukan raja Mataram didapat dari keturunan atau warisan dari pendahulunya. Aturan raja yang akan menggantikan pendahulunya adalah putra laki – laki, bahkan dari selir pun bisa dinobatkan sebagai raja. Apabila keduanya tidak ada anak laki – laki, maka yang ditunjuk adalah paman atau saudara laki – laki tua dari ayahnya bisa menjadi pengganti.

Sedangkan sistem eksternal Kerajaan Mataram, terjadi perbedaan yang mencolok terutama dalam hal menghadapi para penjajah. Ada beberapa raja Mataram yang bersikap anti pati namun adapula yang kompromistis. Pada masa Senopati belum didengar terjadi hubungan antara para penajajah dari Eropa dengan Kerajaan Mataram. Pada masa pemerintahan Mas Jolang, kehadiran Belanda diterima dengan baik diakhir kekuasaanya. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang dilakukan Sultan Agung, beliau benar – benar menyatakan perlawanan terhadap para penajajah. Berbagai cara dilakukan untuk mengusir para penjajah. Dua kali pertempuran di Batavia dilakukan untuk melawan VOC, masing – masing pada tahun 1628 dan 1629 walaupun pada akhirnya hanya memperoleh kegagalan. Namun penguasa Mataram selanjutnya yaitu Amangkurat I bertolak belakang dengan Sultan Agung. Ia lebih memilih berkompromi dan bersahabat dengan Belanda.


MASA KEMUNDURAN MATARAM

Sepeninggal Sultan Agung, Mataram diperintah oleh Amangkurat I dengan gelar Susushan Amangkurat I. Ia memerintah Mataram dari tahun 1645 – 1677. Sebagai raja Mataram, Amangkurat I banyak mengeluarkan kebijakan kontrofersial diantaranya :

  • Tidak lagi menghargai ulama dan terkesan ingin menyingkirkannya. Pada masa pemerintahannya, banyak ulama dibunuh.
  • Menghapus lembaga agama yang ada di Kerajaan Mataram seperti Mahkamah Syariah yang dahulu dibentuk ayahnya Sultan Agung.
  • Membatasi perkembangan agama dan melarang kehidupan beragama dicampur aduk dengan masalah kesultanan.
  • Membangun kerjasama dengan para penjajah

 

Kebijakan Amangkurat I yang kontrofersial menuai kemarahan dari masyarakat Mataram. Terjadi perlawanan di beberapa daerah diantaranya oleh Raden Kajoran. Ia menyusun kekuatan dengan para santri dan rakyat sebagai pendukungnya. Ia juga didukung oleh Raden Anom anak Sultan Amangkurat I dan Trunojoyo, seorang bangsawan yang berasal dari Madura. Kekuatan pemberontak semakin kuat dengan bantuan dari Karaeng Galesong seorang bangsawan dari Gowa.

Namun pada perkembangannya Adipati Anom melakukan pengkhianatan dan keluar dari aliansi serta diampuni ayahnya Amangkurat I. Pada tahun 1677, Raden Kajoran mengepung pusat pemerintah Amangkurat I yang ada di Pleret. Amangkurat I dan anaknya melarikan diri ke Batavia dan meminta bantuan kepada Belanda. Dalam pelariannya, Amangkurat I jatuh sakit dan meninggal.

Sebelum wafat, Amangkurat I memberikan mandat kepada Adipati Anom untuk menjadi Sultan Mataram baru menggantikan dirinya. Setelah Adipati Anom dilantik, ia kemudian mendapat gelar sebagai Sultan Amangkurat II dan kembali bekerja sama dengan Belanda untuk merebut takhta kerajaan Mataram dengan perjanjian Jepara di mana Belanda meminta upah wilayah timur Karawang dan upah dalam bentuk uang untuk jasanya membantu merebut Mataram. Setelah perjanjian Jepara disetujui, Belanda beserta Amangkurat II menyerang Mataram dan berhasil mengalahkan Raden Kajoran. Dengan demikian, Mataram kembali ke tangan Amangkurat II.

Meskipun Mataram telah kembali direbut dan mengembalikan fungsi ulama dalam kerajaan, namun pada perkembangannya di Kerajaan Mataram masih ada persoalan-persoalan lain yang belum selesai. Sejak tahun 1743, wilayah Mataram hanya tinggal Bagelan, Kedu, Jogjakarta dan Surakarta. Tragisnya, Mataram harus terpecah menjadi dua oleh Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Mataram terpecah menjadi Kesunanan Surakarta dengan rajanya Susuhunan (Pakubuwono) dan Kesultanan Yogyakarta dengan Pangeran Mangkubumi (Hamengkubuwono I).

Pada tahun 1757, Kerajaan Surakarta pecah lagi menjadi wilayah yang dikuasai Pakubuwono dan wilayah yang dikuasai Mangkunegara I. Hal ini juga terjadi di Yogyakarta yang terpecah menjadi dua, yaitu wilayah Kesultanan yang dikuasai Sultan Hamengku Buwono III dan Kadipaten Pakualaman yang dipimpin Bendara Pangeran Natakusuma atau lebih dikenal dengan Pakualam I.


SEJARAH DAN ISI PERJANJIAN GIYANTI (1755)

Perjanjian Giyanti merupakan kesepakatan  Mataram yang diwakili Pakubuwono III, VOC serta kelompok Pangeran Mangkubumi atas pemecahan masalah kerusuhan yang terjadi di Mataram pasca meninggalnya Sultan Agung. Perjanjian ini kemudian ditandatangai pada 13 Februari 1755 dan menandai berakhirnya Kerajaan Mataram. Penamaan Giyanti pada nama perjanjian Giyanti diambil dari desa tempat kesepakatan ini dilakukan yaitu di Desa Giyanti (ejaan dari Belanda yang sekarang berlokasi di Dukuh Kerten, Desa Jantiharjo), Karanganyar, Jawa Tengah.

Isi Perjanjian Giyanti

Terdapat dua inti dari Perjanjian Giyanti yaitu pembagian wilayah kerajaan Mataram, diantaranya :

  • Wilayah Barat Mataram yang diserahkan kepada Mangkubumi yang kemudian menyandang gelar Hamengkubuwono I dengan keraton bernama Kasultanan Yogyakarta
  • Wilayah Timur yang diserahkan kepada Pakubuwono III dengan keraton yang bernama Kasunanan Surakarta

Pembagian Wilayah

Perjanjian Giyanti membagi Kerajaan Mataram menjadi dua wilayah, yaitu sebelah timur Kali Opak yang dikuasai tahta Mataram (Sunan Pakubuwono III) dan sebelah barat Kali Opak (Mataram asli) yang diserahkan kepada Mangkubumi yang sekaligus diangkat menjadi Hamengkubuwono I yang berkedudukan di Yogyakarta. Di dalam Perjanjian Giyanti terdapat poin penting yaitu VOC dapat menentukan siapa yang menguasai kedua wilayah jika diperlukan.