Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rangkuman Materi PAI Kelas 11 Bab 8 Kurikulum Merdeka

Assalamualaikum Wr Wb, 

Halo sahabat pendidikan dimanapun anda berada, salam sejahtera bagi kita semua.

Pada Kesempatan kali ini saya sebagai admin akan memberikan informasi tentang rangkuman materi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam jenjang SMA kelas 11 Bab 8. 


Bab 8 - Adab Menggunakan Media Sosial 

A. Pentingnya Adab Menggunakan Media Sosial

Seiring dengan perkembangan teknologi dan internet, telah menghubungkan setiap manusia ke dalam sebuah dunia baru, dunia digital tanpa batas. Internet dapat menghubungkan berbagai belahan dunia yang tidak kenal sebelumnya dengan cara mengoneksikan komputer/HP dengan jaringan internet. Saat berinteraksi dengan pengguna internet di dalam jaringan, naluri manusia sebagai makhluk sosial muncul. Hal ini yang menjadi dasar munculnya media online (termasuk media sosial) yang mampu mewadahi para pengguna internet di seluruh dunia.

Medsos sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Dari bangun tidur sampai mau tidur, medsos berada dalam genggaman. Medsos mempunyai dampak positif dan negatif. Di antara manfaatnya adalah memudahkan dalam berkomunikasi, bersilaturahmi, dan kemudahan mendapatkan informasi. Selain itu medsos juga bermanfaat untuk media belajar dan bisnis.

Di sisi lain, medsos juga dapat berdampak negatif bagi penggunanya. Seperti hoaks, ujaran kebencian, perkelahian, pornografi, radikalisme, terorisme, dan lain-lain. Contoh nyata adalah hasil pantauan tim AIS Ditjen Aptika Kementerian Komunikasi dan Informatika per tanggal 5 Mei 2020 ada 1.401 konten hoaks dan disinformasi tentang Covid-19 yang beredar di masyarakat. Sedangkan dalam ujaran kebencian, data dari media tempo.co tanggal 20 November 2020, bahwa salah satu media sosial terbesar dari sepuluh ribu penayangan konten sepanjang bulan Juli-September 2020, terdapat sepuluh sampai sebelas unggahan yang mengandung ujaran kebencian.

Dari penjelasan di atas, dalam bermedia sosial perlu ada adab. Adab ini untuk menghindari dari dampak negatif yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Harapannya dengan adab bermedia sosial ini, semua penggunanya aman dan nyaman serta lebih bermanfaat.


B. Pengertian Adab Menggunakan Media Sosial 

Secara bahasa, adab artinya adat istiadat; ia menunjukkan suatu kebiasaan, etiket, pola perilaku yang ditiru dari orang-orang yang dianggap sebagai model. Secara istilah adab adalah kebiasaan dan aturan tingkah laku praktis yang mempunyai muatan nilai baik yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sedangkan media sosial yakni media berbasis Internet yang memungkinkan pengguna berkesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain dan mempresentasikan dirinya dengan khalayak luas maupun terbatas yang dapat mendorong persepsi interaksi dengan orang lain. (Hendra A. Setyawan, 2017). Lebih lanjut ia menyatakan bahwa media sosial merupakan konten online yang dibuat dengan teknologi penerbitan yang sangat mudah diakses dan terukur.

Kemajuan teknologi sekarang berdampak pada cara komunikasi seseorang, berbagi berita, mencari informasi, gaya belajar, dan konten. Jenis media sosial yang banyak digunakan oleh masyarakat adalah facebook, instagram, twitter, telegram, whatsapp, kaskus, dan lain-lain.

Dari penjelasan tersebut, maksud adab menggunakan media sosial adalah suatu sikap dan perilaku yang harus dikedepankan ketika berinteraksi dengan orang lain ketika menggunakan media sosial.

Dasar Naqli

Meskipun, zaman Nabi Muhammad Saw. belum ada media sosial, tetapi rambu-rambu dalam berinteraksinya diajarkan dalam Al-Qur’an dan Hadis. Di antara dalil naqli tentang menggunakan media sosial terdapat dalam Q.S. Al-Hujurat/49: 6 berikut ini.

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik dating kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kalian tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (Q.S. Al-Hujurāt/49:6).

Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa ketika menerima sebuah informasi termasuk di dalamnya mendapatkan informasi dari media sosial, maka perlu dicek kebenaran informasi yang kalian terima. Pengecekan informasi tersebut bisa menanyakan ke pemberi informasi atau mengecek ke sumber-sumber resmi yang bisa dipertanggungjawabkan. Apabila kalian mendapatkan informasi tanpa diteliti kebenarannya, seperti yang dijelaskan Q.S. Al-Hujurat/49: 6 agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohannya yang akhirnya kalian akan menyesali perbuatan yang telah dilakukan.

Sedangkan dalam hadis Nabi Muhammad Saw. memberikan arahan dalam menggunakan media sosial sebagai berikut.

Artinya: Dari Abu al-Khair bahwa dia mendengar ‘Abdullah bin Amr bin al-Ash keduanya berkata, “Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw, “Muslim yang bagaimana yang paling baik?” Beliau menjawab: “Yaitu seorang muslim yang orang lain merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya.” (H.R. Muslim)

 Dari hadis di atas dikaitkan dengan adab dalam menggunakan media sosial, agar seorang muslim dalam berinteraksi dengan orang lain merasakan aman dari gangguan dalam bentuk lisan maupun update status atau komentar dalam menggunakan media sosial.


C. Adab dalam Menggunakan Media Sosial

Dalam menggunakan media sosial perlu adab bagi penggunanya. Apa saja adabnya, silahkan kalian simak penjelasan berikut ini.

a. Niat yang baik

Dalam agama Islam, kedudukan niat sangatlah penting, tidak hanya karena merupakan rukun dari suatu ibadah, tetapi niat akan membimbing kesadaran dan sikap seorang muslim dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Bahkan dengan nilai suatu perbuatan akan ditentukan sesuai dengan niatnya. Seperti sabda Rasulullah Saw.:

Artinya: Dari ‘Umar bin al-Khattab ra ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, sesungguhnya amal perbuatan ditentukan dengan niatnya. Sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai dengan niatnya. Siapa yang hijrah dengan niat kepada Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasulnya. Dan siapa yang hijrah dengan niat memperoleh dunia atau menikahi seorang perempuan, maka hijrahnya sesuai dengan yang ia niatkan. (H.R. Muslim).

Imam al-Nawawi menjelaskan maksud hadis di atas adalah amal perbuatan dinilai sesuai dengan niatnya. Dalam hadits tersebut dicontohkan bahwa seseorang yang hijrah dengan niat karena Allah dan Rasulullah, pahala dari hijrah itu akan didapatkannya kelak di akhirat. Apabila ada yang berniat hijrah untuk mendapatkan harta atau perempuan, maka ia hanya akan memperoleh balasan duniawi sesuai yang dia niatkan. Karenanya dalam bermedia sosial diniatkan lillāhi ta’āla. Hal ini sesuai dengan Q.S. Al-An’am/6: 162-163.

Penjelasan di atas menunjukkan pentingnya sebuah niat. Dalam Kitab Ta’lim al-Muta’alim, Imam al-Zarnuji menyebutkan banyak perbuatan yang secara lahiriah adalah amal duniawi, tetapi karena baiknya niat akan menjadi amal akhirat (bernilai ibadah) jika diniati dengan niat yang baik. Sebaliknya amal akhirat (ibadah) jika niatnya tidak baik akan menjadi amal dunia (tidak dinilai sebagai ibadah yang berpahala).

Dari hadis dan penjelasan di atas dihubungkan dengan menggunakan media sosial pun perlu diniati dengan baik agar mempunyai nilai ibadah dan mendatangkan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

b. Memilih teman yang baik

Dalam bermedia sosial, tentu kalian akan bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai negara. Pilihlah teman di media sosial yang baik untuk menambah silaturrahim, saling berbagi informasi yang baik, dan saling mengingatkan untuk melakukan perbuatan positif. Apabila ada teman di media sosial mengajak ke hal yang bertentangan ajaran agama dan norma sosial, maka kalian harus berani mengatakan TIDAK. Banyak kasus dalam pertemanan di media sosial, terjerumus ke perbuatan yang dilarang agama dan hukum yang berlaku di Indonesia.

Terkait memilih teman, Nabi Muhammad Saw. telah memberikan gambaran perbedaan antara teman yang baik dan yang tidak baik:

Artinya: Dari Abi Musa ra., dari Nabi Saw. bersabda: perumpamaan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual minyak misik (yang wangi) dan seorang pandai besi. Penjual minyak misik terkadang ia menawarkan minyaknya dan terkadang ia akan menjualnya kepadamu dan terkadang kamu yang akan mendapatkan aroma wanginya. Adapun pandai besi adakalanya ia akan membakar pakaianmu dan adakalanya kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap. (H.R. Al-Bukhāri)

c. Meneliti fakta atau kebenaran informasi yang diterima

Dalam berinteraksi media sosial, kalian pasti pernah menerima informasi dari teman, baik berupa teks/tulisan, foto atau video. Terkadang setelah menerima informasi tersebut, kalian ingin mengirim kembali informasi tersebut ke berbagai grup lain. Sebelum mengirim, teliti kebenaran beritanya.

Meneliti kebenaran berita yang didapat dari media sosial merupakan hal yang paling utama. Saring sebelum sharing ke media sosial. Kebenaran ini akan menjadikan apa yang kalian sampaikan di medsos bisa dipertanggungjawabkan baik di dunia dan akhirat. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Al-Hujurat/49: 6 pada halaman sebelumnya.

d. Menyampaikan informasi tanpa rekayasa atau manipulasi

Berita bohong atau hoax biasa dimulai dari mengedit, merekayasa dan memanipulasi informasi yang ada di dalam sebuah berita. Padahal hal ini dilarang dalam Islam. Maka sebagai muslim yang baik, hendaknya tidak merekayasa dan memanipulasi informasi. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam Q.S. Al-Hajj/22: 30 di bawah ini:

“Jauhilah olehmu perkataan-perkataan dusta.”

e. Mengajak kepada kebaikan

Media sosial tidak hanya media untuk bersilaturrahmi dengan berbagai kalangan. Tetapi juga dapat dijadikan sebagai media mengajak kepada kebaikan secara lebih luas. Terlebih lagi data Kementerian Komunikasi dan Informatika per tanggal 5 Mei 2020 ada 1.401 konten hoaks dan disinformasi tentang Covid-19 yang beredar di masyarakat. Sedangkan dalam ujaran kebencian, data dari media tempo.co tanggal 20 November 2020, bahwa salah satu media sosial terbesar dari sepuluh ribu penayangan konten sepanjang bulan Juli-September 2020, terdapat sepuluh sampai sebelas unggahan yang mengandung ujaran kebencian. Dari data tersebut, seharusnya media sosial menjadi ladang dakwah kalian untuk menyeru kebaikan dan menebarkan perdamaian. Sehingga orang-orang akan tetap tergerak hatinya untuk mengikuti kebaikan.